Tak terasa, waktu sudah berhasil mengubah tubuh kecilku
Aku rindu dengan pangkuan ibu.
Aku rindu merengek dipagi hari saat aku terbangun. Aku rindu.
Akan sangat tidak mungkin untuk aku bisa mengulang waktu.
Mengingat aku yang tidak bisa apa-apa ini, kadang lemah menghadapi semesta.
Dunia yang penuh dengan ambisi orang-orang aneh.
Banyak yang ingin meninggi dengan menjatuhkan yang lainnya.
Di kotaku tempat merantau ini memang sedikit kejam.
Aku kadang tidak bisa melihat siapa temanku sebenarnya.
Karena orang-orang sibuk mencari muka.
Sedang aku si pendiam ini, kadang hanya bisa berteman dengan kertas dan pena.
Ya, karena cuma mereka yang tidak pernah bohong.
Cuma mereka yang tidak pernah tertawa saat aku menangis.
Keadaan sering membuatku ingin menyerah.
Tapi senyum orang rumah selalu bisa menguatkan aku disini.
Hidupku tidak akan berarti jika aku pulang sekarang.
Sebuah batu sepertinya tidak lagi terasa begitu menyakitkan.
Sebuah cacian seolah sudah tidak lagi terpikirkan.
Aku akan hancur jika mendengarkan mereka.
Semua mimpi yang sudah kususun bisa saja roboh karena ulah mereka.
Bukan aku tidak ingin bergaul, apalagi memiliki pasangan
Tapi aku takut, banyak orang jahat disekitarku yang memakai topeng untuk menutupi taringnya.
Bu, aku ingin menjadi putra kecilmu.
Yang sering kau bangga-banggakan dengan semua orang.
Yang selalu kau bawa kemanapun kau berada.
Aku ingin pulang, untuk sebentar saja mengecup keningmu.
Aku ingin mendengar langsung doamu yang luarbisa itu untukku.
Disini aku tidak bisa apa-apa tanpa doamu bu.
Air mataku juga sudah tidak lagi ada maknanya.
Perjuanganku mungkin tidak seberat ibu dulu.
Tapi kini aku paham.
Untuk menjadi mulia, aku arus ditempa.
Untuk menjadi berharga, aku harus pernah merasakan dicerca sedemikian rupa.
Untuk itu, aku mohon doa langitmu bu.
Anakmu yang sudah tidak kecil lagi ini ingin mencoba mengukir senyum di bibirmu.
Jangan tambah menua ya bu.
Tunggu aku berhasil, dan akan kupersembahkan dunia untukmu.
Lalu kita akan bahagia bersama.
Kalau dulu kau yang menimangku.
Biarkan nanti aku yang merawat masa tuamu. Terimakasih ibu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar