karya HELVY TIANA ROSA
Salam airmata, negeri cinta
Aku masih memeluk merah putih, berdiri di sini. Mendengar desau suara darah yang sama, menyayat-nyayat cakrawala abu. Siapakah yang membakar asa dan cinta
yang dulu setia kita pelihara? Sementara secara tiba-tiba kita gadaikan kemanusiaan kita pada sesuatu yang bernama kebiadaban
Aku masih memeluk merah putih, berdiri di sini. Menyaksikan jutaan jiwa mengigau dan mencabik-cabik saudara sendiri, sementara jutaan jiwa lainnya jadi pengungsi jeri. Mereka makan lapar, mereka minum haus. Darah, airmata mereka tumpah, menjelma sungai-sungai perih di sepanjang jalan sejarah.
Aku memeluk merah putih, berdiri di sini, menatap para pemimpin tercintaku. Kini kata-kata mereka hampir angin. Mereka cari nurani di balik kursi. Aku bertanya-tanya, apa mereka tahu di mana menempatkan Tuhan dan rakyat dalam diri serta diskusi-diskusi itu. Bisakah mereka istirah dari perseteruan, karena waktu telah semakin debu. Kota-kota berteriak parau, merdeka!
Masih kupeluk merah putihku, berdiri di sini. O, para ulama, mata air kesejukan kami, yang menatap dengan mata langit. Dari hati yang khusyu dan mulut mereka
akan keluar mutiara yang bercahaya. Tapi ayat-ayat telah dibakar dalam tanah air yang api. Mereka menangis, airmatanya menjelma curah hujan di pekarangan negeri. Lantas samar mata nyeriku melihat orang-orang kabut bergentayangan. Tak ada tanda sujud, tiada izzah, tetapi mereka kenakan jubah ulama kami
Aku pun tetap berdiri di sini, masih memeluk merah putih. Kutatap mata hitam para kanak-kanak di pengungsian kumuh dan kutemukan diriku terhempas dalam lalu. Kembali pada masa kecil yang binar di negeri damai. Hati-hati berpelukan, tebaran senyum, uluran tangan, hasil tanah melimpah. Kebahagiaan seperti kupu-kupu yang kembara di taman-taman kasih.
Salam cinta negeriku airmataku, salam airmata negeriku cintaku. Kini di atas puing-puing luka yang meninggi, sambil berdiri memeluk merah putih, kutepis kemungkinan pergi. Tak akan ada perpisahan itu. Suatu hari jiwa matahari akan mencerahkan segala yang telah darah. Jutaan tekad, daya dan doa akan membelai, mengusap wajah duka. Dan para pemimpin, para ulama, rakyat yang lara, kita akan tumbuh dewasa disebabkan hikmah. Entah kapan, kuharap kita segera kembali dari pengungsian panjang yang melelahkan ini. Membangkitkan negeri cinta kita sekali lagi, sambil tak henti berzikir.
(Cipayung, Maret 2001)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar