~Fiersa Besari~
Aku ingat pertama kali melihatmu. Kau masuk ke dalam hidupku tanpa permisi, berputar bagai gangsing di dalam pikiranku. Entah Kau milik siapa?, hatiku keras kepala.
Ceritakanlah tentang dirimu. Berbincanglah sampai salah satu dari kita tertidur. Aku tidak akan bosan dengan semua yang Kau ketik. Betapa sering Aku menduga - duga, adakah kode yang tersirat dalam kolom chat kita?
Aku tidak mau ber drama, tapi aku tidak bisa mengeluarkan kamu dari kepalaku. Aku tidak tau lagi meski berbuat apa. Jika Kau percaya kan jodoh, mungkin ini contohnya. Dan Aku tidak berbicara perihal parasmu, atau apa yang engkau punya. Ada sesuatu tentangmu yang membuatku merasa baik baik saja, entah apa.
Kamu selalu mampu membuatku jujur mengenai segala hal, except one: My feelings.
Andai saja aku mampu memberitahumu, bukanlah fiksi lebih meninabobokan di banding kenyataan? bukankah kita adalah dua orang yang terlanjur menikmati berkubang dalam Zona Pertemanan? Tubuh kita berlumur harapan palsu. Tangan ku mengapai - gapai mencari jalan keluar, sementara tanganmu mencegahku kemana - mana.
Tunggu sebentar. Izinkan Aku keluar dari zona pertemanan kita sejenak. Akan ku tunjukan padamu sebuah gerbang menuju dunia paralel. Mari ikut aku kesana. Di dunia paralel, Aku tidak perlu lagi repot - repot menyatakan apapun. Kau akan setuju untuk bersanding denganku tanpa perlu ada serentetan peristiwa yang membuat kita semakin pelik. Aku akan menjadi bumi untuk mentarimu, lirik lagu untuk mu, hujan untuk bungamu.
Di dunia paralel, keadaanya akan jauh berbeda walau begitu, Kau tau Aku tetap menjadi orang yang sama, yang merindukanmu dengan sederhana, aku mengejarmu dengan wajar, menyayangimu dengan luar biasa, dan menyakitimu dengan mustahil.
Bandung, 11 September 2019
Tidak ada komentar:
Posting Komentar