Minggu, 13 September 2020

DENGARLAH SUARA KAMI PECUNDANG SASTRA PUISI SATIRE


Cewek 👇🏻👇🏻👇🏻

PECUNDANG!!!

Ya... Kau... adalah PE-CUN-DANG

Bahkan mulut yg di takdirkan untuk mengungkapkan Terbelenggu oleh sajak palsu ,

kenapa harus terdefinisi sebuah hubungan itu , kenapa harus ada kepicikan pikiran yg senantiasa menyeret pikiran ke jurang tak berujung

(haa.. haa.. haa..)

 

Cowok 👇🏻👇🏻👇🏻

Dia memang PECUNDANG!!!

Tat kala sang iblis menjelma menjadi sang telinga kiri ,

dia mendengar hal benar yg di salahkan dan itu benar ,

lantas apa bedanya kita dengan iblis jika masih kalah dengan kegundahan dan ketidak stabilan yg di sinkronkan hati dan pikiran

 

Cewek 👇🏻👇🏻👇🏻

Kecurigaan selalu menjadi selimutku , dan aku merengkuh di dalam nya seraya sekarat karna dingin

Saat keluar dari kerendahan pikiran ,

aku mulai membacamu dengan cermat dan teliti dan bodohnya aku tak menemukan mu lagi ,

bagai 2 bagian bunga yg terbelah , kau bukan apa"

dengan harumnya bau rumput yg slalu menyaksikan kemarahanku setiap senja menyingsing ,

lantas kenapa ini terjadi lagi?

 

Cowok 👇🏻👇🏻👇🏻

ini bukan penyebabmu juga penyebab kita ,

ini pikiran ku yg tak pernah mempercayainya,

2000 kata kau terapkan dengan pena tapi apa hasilnya ?

Hanya puisi percintaan yg absurd.

(haa.. haa.. haa..)

Dasar kau memang bangsat!!! cuiiih...

 

Cewek 👇🏻👇🏻👇🏻

Pagi menjelma menjadi angin yg berhembus melalui sela tangan kita yg mulai mendekat ke pipi nya lantas matahari datang dan semua pudar sirna , kenapa ?

Percayalah ini bukan visi maupun ambisi tapi ini persepsi ku ,

iri pada sang rumput yg senantiasa membelai sang angin ,

iri kepada sang lebah yg senantiasa mengecup lembut nektar pada bunga malam,

atau...

iri pada sang burung yang tertawa bersama seakan kematian membelanya,

(haa.. haa.. haa..)

Najis... cuiihhh...

iya aku tukang iri !

Lantas iri ini menjelma menjadi pembodohan yg selalu aku terima dengan amarah ,

apakah ini normal ?

 

Cowok 👇🏻👇🏻👇🏻

Jika iya kita memilih untuk gila ,

bejana kita terisi kembali dengan kenangan indah ,

tapi sialnya tiba" keruh karna dia ,

ku padamkan lentera yg gelap itu supaya datang terang ,

ayo lah...

kita akan membunuh dirinya tatkala dia menemui kebahagiaan semata

Kita menganggapnya sebagai anjing ,

kasar ? Bukan !

Ini gila ! Maaf dirinya yang gila.

 

Cewek 👇🏻👇🏻👇🏻

Kau jangan diam Bodoh!!!

Kemana telingamu?

 

Tidak mendengar yang pilu

 

Hanya bergurau dengan sang ratu

 

Tergagap pada ambigu, Keparat!!! anjing

 

 

 

Cowok 👇🏻👇🏻👇🏻

 

Katanya kamu seorang maestro puisi dengan ijasah seabrek menumpuk di laci

 

Tapi, kenapa kata-katamu rendah seperti sampah?

 

Bikin jijik telinga yang mendengarnya

 

Katanya kamu seorang puitis

 

Tapi, kenapa telingamu tuli akan jerit pilu temanmu sendiri?

 

Seolah tiada kejadian miris pada mereka

 

Di mana naluri kemanusiaanmu?

 

(haa.. haa.. haa...) Biadab!!

 

 

 

Cewek 👇🏻👇🏻👇🏻

 

Kamu,

 

Iya, kamu yang mengaku orang bermoral dan beragama

 

Kenapa kau patahkan ladang ilmu teman" dengan perilaku bejatmu?

 

Ingat!

 

apa yang kau lontarkan itu bukan pujian

 

Melainkan opini kebodohan

 

Amanat berceloteh tersemat pada penghuni mulut indahmu

 

Jangan lalai!

 

Jangan dzolim!

 

Akan ada pertanggung jawaban atas amanat yang kauterima

 

(haa.. haa.. haa..)

 

Ahh, rupanya kamu sedang terlelap di kebodohanmu sendiri

 

Pantaslah kautuli akan teriakan mereka yang terkhianati olehmu

 

 

 

Di baca bersama 👇🏻👇🏻👇🏻

 

Pengemis sastra celoteh sahabat

 

Kediri Selasa 23 Juni 2020 / 08:21 WIB

 

Karya: Mata Langit

Tidak ada komentar:

RAMADHAN TANPA IBU

Aku memendamnya hingga hari-hari penuh berkah datang Semesta seakan berbisik agar hati menjadi lebih lapang Mencium aroma kurma yang menggod...