Minggu, 13 September 2020

Jante Arkidam (Karya Ajip Rosidi)

Sepasang mata biji saga

Tajam tangannya lelancip gobang

Berebahan tubuh-tubuh lalang dia tebang

Arkidam, Jante Arkidam

 

Dinding tembok hanyalah tabir embun

Lunak besi di lengkungannya

Tubuhnya lolos di tiap liang sinar

Arkidam, Jante Arkidam

 

Di penjudian, di peralatan

Hanyalah satu jagoan

Arkidam, Jante Arkidam

 

Malam berudara tuba

Jante merajai kegelapan

Disibaknya ruji besi pegadaian

 

Malam berudara lembut

Jante merajai kalangan ronggeng

Ia menari, ia ketawa

 

‘mantri polisi lihat ke mari!

Bakar mejajudi dengan uangku sepenuh saku

Wedanan jangan ketawa sendiri!

Tangkaplah satu ronggeng berpantat padat

Bersama Jante Arkidam menari

Telah kusibak rujibesi!’

 

Berpandangan wedana dan mantripolisi

Jante, Jante; Arkidam!

Telah dibongkarnya pegadaian malam tadi

Dan kini ia menari!’

 

‘Aku, akulah Jante Arkidam

Siapa berani melangkah kutigas tubuhnya

Batang pisang,

Tajam tanganku lelancip gobang

Telah kulipat rujibesi’

 

Diam ketakutan seluruh kalangan

Memandang kepada Jante bermata kembang

Sepatu

 

‘mengapa kalian memandang begitu?

Menarilah, malam senyampang lalu!’

 

Hidup kembali kalangan, hidup kembali

Penjudian

Jante masih menari berselempang selendang

 

Diteguknya sloki kesembilanlikur

Waktu mentari bangun, Jante tertidur

 

Kala terbangun dari mabuknya

Mantripolisi berada di sisi kiri

‘Jante, Jante Arkidam, Nusa Kambangan!’

 

Digisiknya mata yang sidik

‘Mantripolisi, tindakanmu betina punya!

Membokong orang yang nyenyak’

 

Arkidam diam dirante kedua belah tangan

Dendamnya merah lidah ular tanah

 

Sebelum habis hari pertama

Jante pilin ruji penjara

Dia minggat meniti cahya

 

Sebelum tiba malam pertama

Terbenam tubuh mantripolisi di dasar kali

 

‘Siapa lelaki menuntut bela?

Datanglah kala aku jaga!’

 

Teriaknya gaung di lunas malam

Dan Jante berdiri di atas jembatan

Tak ada orang yang datang

Jante hincit menikam kelam

 

Janda yang lakinya terbunuh di dasar kali

Jante datang ke pangkuannya

 

Mulut mana yang tak direguknya

Dada mana yang tidak diperasnya?

Bidang riap berbulu hitam

Ruastulangnya panjang-panjang

Telah terbenam beratus perempuan

Di wajahnya yang tegap

 

Betina mana yang tak ditaklukkannya?

Mulutnya manis jeruk Garut

Lidahnya serbuk kelapa puan

Kumisnya tajam sapu injuk

Arkidam, Jante Arkidam

 

Teng tiga di tangsi polisi

Jante terbangun ketiga kali

Diremasnya rambut hitam janda bawahnya

 

Teng kelima di tangsi polisi

Jante terbangun dari lelapnya

Perempuan berkhianat, tak ada di sisinya

Berdegap langkah mengepung rumah

Didengarnya lelaki menantang:

‘Jante, bangun! Kami datang jika kau jaga!’

 

‘Datang siapa yang jantan

Kutunggu di atas ranjang’

 

‘Mana Jante yang berani

Hingga tak keluar menemui kami?’

 

‘Tubuh kalian batang pisang

Tajam tanganku lelancip pedang’

 

Menembus genteng kaca Jante berdiri di atas atap

Memandang hina pada orang yang banyak

Dipejamkan matanya dan ia sudah berdiri di atas tanah

‘hei, lelaki matabadak lihatlah yang tegas

Jante Arkidam ada di mana?’

 

Berpaling seluruh mata kebelakang

Jante Arkidam lolos dari kepungan

Dan masuk ke kebun tebu

 

‘Kejar jahanam yang lari!’

 

Jante dikepung lelaki satu kampung

Dilingkung kebun tebu mulai berbunga

Jante sembunyi di lorong dalamnya

 

‘Keluar Jante yang sakti!’

Digelengkannya kepala yang angkuh

Sekejap Jante telah bersanggul

‘Alangkah cantik perempuan yang lewat

Adakah ketemu Jante di dalam kebun?’

 

‘Jante tak kusua barang seorang

Masih samar, di lorong dalam’

 

‘Alangkah Eneng bergegas

Adakah yang diburu?’

 

‘Jangan hadang jalanku

Pasar kan segera usai!’

 

Sesudah jauh Jante dari mereka

Kembali dijelmakannya dirinya

 

‘Hei lelaki sekampung bermata dadu

Apa kerja kalian mengantuk di situ?’

 

Berpaling lelaki ke arah Jante

Ia telah lolos dari kepungan

 

Kembali Jante diburu

Lari dalam gelap

Meniti muka air kali

Tiba di persembunyiannya.

Tidak ada komentar:

RAMADHAN TANPA IBU

Aku memendamnya hingga hari-hari penuh berkah datang Semesta seakan berbisik agar hati menjadi lebih lapang Mencium aroma kurma yang menggod...