Kali ini aku tidak bicara tentang senja atau hujan
Tapi tentang senjata atau hujaman
Bukan pula perihal cinta atau luka dalam kenangan
Tapi tentang tinta atau duka dalam karangan
Apalagi perkara pecundang dalam barisan
Tapi ini tentang sebuah kritikan
Kritik!
Kita sedang menyuarakan puisi kepada segerombolan penguasa tanpa keadilan
Bukan teriakan murahan kepada yang tak paham tentang estetika
Hei! Puisi ini untuk kamu bodoh!
Di mana-mana kami akan terus mengintai pergerakan
Bila rakyat jadi tumbal dari pesugihan kekuasaan
Maka kata “berhenti” kami hapus, menggantinya menjadi “sampai mati atau mampus!”
Karena kita adalah pejuang di atas kertas juga di atas aspal
Inilah raung dalam ruang-ruang berkelas
Lidah masih bisa meludah dengan majas-majas
Ironi, sinisme, sarkasme, satire dan innuendo
Tapi bila mulut ini coba kau bungkam
Maka bukan sekadar kata-kata lagi yang akan merajam!
Kami penyambung rokok dari Soekarno
Setiap kepulan-kepulan adalah kepalan-kepalan yang akan terus melawan
Setiap isapan-isapan adalah usapan-usapan peperangan
Setiap udara-udara adalah suara-suara tak berkesudahan
Kaum kiri akan terus lahir sepanjang kehidupan
Kritik!
Kami beri titik kepada semua bentuk pengkhianatan atas janji setelah dilantik
Pembalasannya adalah ratusan peluru agar perlawanan berakhir
Tidak! Itu tidak akan mengakhiri yang telah lama dimulai
Kami pamali bungkam!
Sekalipun harus sampai titik!
Angkat senjatamu!
Kami akan terus angkat bicara!
Inilah titik yang akan terus jadi tanda seru!
Seruan-seruan seru!
Kalau kau pijak-pijak sajakku
Maka sajak-sajak akan terus menginjakmu!
“Der af of deruit!”
Tanggalkan atau keluar!
Tangan kiri mengepal, tangan kanan menikam!
KAMI PAMALI BUNGKAM!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar