Kamis, 04 Februari 2021

KACA BENGGALA KERAMAT




Kediri 27 Juni 2020 / 10:46 WIB
Karya: Mata Langit


Aku terbangun dalam keheningan hari.
Termanggu di kusen jendela, menyambut pagi yang tak kunjung tiba.
Hanya gemuruh air membentur tanah yang kudengar diluar sana.
Kamarku temaram, mendekati ambang gulita, dan kusyukuri kilat petir yang menyinggahkan cahayanya biar sejenak.
Puisi kematian berhembus pelan, terselip diantara karbondioksidaku yang menginfeksi udara,
sebagian lain mencipta embun diatas kaca.
Hatiku bergetar, bergeming dengan gerak hati yang berdoa menyambut ajal. 
Nyaris kuberfikir aku mati dari tempo yang jauh dari hari ini, sehari yang lalu, atau mungkin besok, lusa, dan dihari hari setelahnya.
Namun yang ketemui hanyalah kematian berulang, setiap hari. 
Jantung ini terasa sudah meninggalkan rongga dada, menyisakan lebih banyak rongga bagi nafasku.
Ampedu melumuri hati, naik hingga menyentuh pangkal lidah. Pahit.
Sisanya masuk ke paru, menyeruak hingga memepati hidung. Lagi, mual yang tak kentara.
Semuanya tak bisa kuberi toleransi.
Apa aku telah hidup dengan jahat? 
(haa.. haa.. haa..)
Lututku naik keatas kursi, meminta untuk dipeluk. Menghindarkan dia dari dinginnya ketakutan.
Bisa kurasakan darah ditelapak kakiku beku, nukleus sarafnya pecah.
Menyisakan getar diseluruh tubuh.
Dingin yang tak bisa kutahan naik merangsek hingga membekukan kepala, namun tak lama...
Rasa dingin itu keluar lewat air mata. Hangat.

“Tolong...” Tenggorokanku terluka. Aku tak bisa bicara dengan baik-baik saja. “Tolong jangan tatap aku...” 

Aku menoleh kearah cermin yang tak jauh dari tempatku berdiam.
(Diam Sejenak)
Menangis pada dia. Dia, boneka manekin dalam cermin benggalaku.
Rambutnya panjang terurai dengan gaun tidur putih yang kebesaran.
Terus menatap dengan mata basah. Dia marah, dia takut, dan dia memberikan semua itu padaku lewat tatapannya. 

“Jangan lihat aku!”

kurasakan teriakan lolos dari jeratan lidah yang beku. Namun dia tetap melihatku, lalu bibir plastiknya tersenyum rendah. Ia terhela dalam diam, menyemburkan nafas beraroma mistis keluar cermin. Nafas itu menari mengelus tengkuk, dan membuat jeratan menyesakan disana.

“Tolong...”

Gadis bermata teduh memotong  terakhir dipiringnya. Dengan gerakan pelan menusukan garpu, mengangkat buah itu kedepan mulut.
Belum sempat bibirnya terbuka, gelas disisinya pecah membentur lantai.
Ia terpaku dalam air wajah tanpa warna, datar. 
Seseorang mengetuk pintu?
Gadis itu menghela nafas.
Ia mengambil serbet putih dan mengelap sudut bibir. Dilihatnya keadaan diluar sana.
Nampak muram hujan, mendung merundungi kota. Beberapa kubangan sudah terisi penuh dengan air kecoklatan.
(haa.. haa.. haa..)

Tidak ada komentar:

RAMADHAN TANPA IBU

Aku memendamnya hingga hari-hari penuh berkah datang Semesta seakan berbisik agar hati menjadi lebih lapang Mencium aroma kurma yang menggod...