**
Kau lah satir rasaku
Kau Juga satir jiwaku
Kau adalah segala satir dari ucapan dan perbuatan perbuatan
Sering dendang serapah bibir-bibir tak seksi mengganyang kenyang
Dari coretan pena yang menusuk
Membuat sakit tak terbesuk ,
Jangkitkan kemaluan hingga sirnakan rasa malu di muka-muka tebal
Apakah aku bukankah kamu ?
Bukankah aku dan kamu adalah kita
Apakah kita bagian luka yang harus lukai luka luka para peluka
Yang bermukim di setiap kisi-kisi kehidupan ,hingga merangsak kedalam istana sang raja,
Melangit di setiap langkah langkah harapan syurga ? huahahahaha...
Dari penggayuh roda becak di sela iringan mercedes dengan penumpang bedes-bedes berdasi
Yang tercaci oleh doa anak-anak negri yang terkebiri
Berujungpun sebatas syair kidung nestapa
Bilakah mengeja kata- kata tercerahi,
Dari tulisan selembar kertas pertanggungjawban,
Dari sudut sudut kantor,
Dari sudut desa Sampe sudut kota,
Dari gang sempit sampai gang mengangkang
Yang tersetubuhi dg berribu bahasa,
Meski kadang tak berarti,karena tak berrasa
Ehem..
Coretan penulis di sela srutupan kopi, pahitnya menipu dan tertipu rasa oleh sang gula-gula,
Dari para penyair yang mampu menyihir wanita terpinggir,
Dari waras hingga lalai lantas berkaca pada cermin yang retak,
Bahkan pecahkan kaca untuk menggores luka sedarahpun tak perduli lantak
Semua..terreja pekikkan satir kelabu langit-langit kita
Yang seharusnya indah merona
Sudikah kembali pada peran berbudi
Dari sekedar kencing di bumi tempat tidur seranah
Dalam pentas sandiwara
Yang setiap pestanya,pasti akan berakhir
Kau dan aku dalam satu cermin
Manakala warna tak merusak Kanvas lainnya
Ahh..
Sudahlah
Aku dan kamu adalah kita, telena terbakar api satir, mengabaikan makna estetika,tanpa sadar mengumbar rasa hambar
Selayaknya beri pujian kepada sang tuan satir yang terplintir nyinyir
______________
*AK*Gurat Djagad Jiwa*
kudus, 14 September 2020
19.27 wib
Tidak ada komentar:
Posting Komentar