Oleh : Aurora Senja
Dia datang tanpa di undang
Tak kenal waktu, tak kenal musim, tak penting soal perihal
Kehadirannya membuat sesak banyak dada
Rasa sesal tak lagi bermakna
Permohonan ampun tiada guna
kini sudah tibalah waktunya
"Hahahahahahahah,
Waktumu telah tiba, tak ada lagi yang bisa menolongmu"
Suara itu, suara itu, suara itu
Tiba-tiba gelap, terasa sesak
Badan seperti di tusuk ribuan pedang
Sakit sekali,
aku mencoba menjerit sekuat yang kubisa, namun jeritan ku hanya disambut dengan isak tangis dan lantunan doa-doa yang tak asing ditelingaku
Sunyi, pekat dan sempit
Kembali ku dengar dua suara langkah datang menghampiri ku
Badan kekar, wajah garang, mata melotot seolah-olah ingin melumatku hidup-hidup
Suaranya yang begitu menggelegar membuat seluruh tubuh bergetar
ia gibaskan cambuk ke tubuh ku seraya berkata :
"Man Robbuka" aku hanya terdiam
"Man Robbuka?" aku kembali terdiam
"Man Robbuka??!"
Suara itu sungguh menakutkan di telingaku
Bukan jawaban yang terlontar dari bibirku, justru tangisan meracau tak karuan, dan tetesan airmata mengucur deras dipipiku
Betapa aku merasa ciut
Betapa aku sungguh hina
Seketika, terlintas ingatan tentang kecongkahan duniawiku
Siapa diriku?
Untuk apa jabatanku?
Kemana semua harta melimpahku?
Semua yang kusombongkan tak ada apa-apanya dimata Tuhan
Mengapa selama ini tak pernah ku sadari
Bahwa mautku sejengkal lebih dekat daripada semua tahtaku
Mengapa tak terfikirkan bahwa duniaku hanya sekedar titipan
Betapa kecilnya aku dibawah semua kuasa Tuhan
Allohuakbar,
Andai masih diberi kesempatan
Tak akan pernah aku meninggalkan-Mu walau hanya sedetik dalam hidupku
Sejatinya, bukankah manusia tercipta dari tanah
Disanalah tempatmu kembali
Maka bertaubatlah sebelum mautmu sejengkal lebih dekat dengan nyawamu
JawaTimur, 14 Mei 2020
Karya Aurora Senja
Tidak ada komentar:
Posting Komentar