Kediri 25 Agustus 2020 / 22:34 WIB
Oleh : Mata Langit
Aksara yang tercipta adalah duka
Yang tak pernah disembuhkan
Air mata adalah tanda
Kesedihan yang kencang karna di tinggalkan
Kejadian yang menimpa amat dalam
Di bakar... sampai terbakar...
Hinggi putus pita tak bersuara
Menjadi cerita terburuk dalam hidup
Beda yang serupa
Wajah malam raut gulita
Mencumbu sempit ruang hampa
Mencicipi gelap dibawah purnama
Maya sedikit nyata
Samar sebatas bayang kan terlupa
Kepastian tertuang dalam aksara
Mencumbu tiap lembar usang tertata
Waktu lama sudah tiba
Tepat di usia 17 tahun
Meratap pada dinding tanpa warna
Lusuh tergores tanpa makna
Pukul dua dini hari
Sungguh wujud-mu
Adalah sesuatu yang menakutkan
Bayangan itu masih bergegas mengejar
Memapar senyum yang menginjak
Menggiring hasrat membenturkan gila
dan ketakutan tanpa cerita tak berbentuk
Seakan ingin bersembunyi di balik jendela
yang mengalirkan sekelumit cahaya dari beranda,
dan tak ingin melintasi kisi-kisi kusam,
yang telah menganga meski terasa manis
Usap,
Sirna,
Pupus,
"Tembang yang sering didengarkan dan diajarkan oleh ibu sejak kecil"
Lingsir wengi sliramu tumeking sirno
Ojo tangi nggonmu guling
Awas jo ngetoro
Aku lagi bang wingo wingo
Jin setan kang tak utusi
Dadyo sebarang
Wojo lelayu sebet
Aruming wengi tansah anggandani endahing sepi
nambahi rasa kangenku marang sliramu.
Kang tansah ngebaki jagad lelamunanku,
wengi iki, swaramu nggoda aku...
Lingsir wengi, wis teka bebarengan sumrebake pedhut
anyesing hawa atis tak rasake nganti ing njero balung.
Wis sakmestine, rasamu lan rasaku nyawiji ing njroning impen.
Ananging mripatku durung bisa merem, eling marang sliramu
Ha.. ha.. hahaha ha.. ha..
Bayanganmu selalu hilang di bait
Yang terlelap di ranjang bilik
Jangan bangun dalam mimpi
Awas..!!!
Jangan terlihat gelisah
Jangan terlihat rasa
Jangan terlena...
Melati jintak utusi
Setangkai ilusi
Jadilah mimpi
Masuklah disini
Jangan membawa pati
Lara dihati
Atau maut diri
Tidak ada komentar:
Posting Komentar