Terlalu banyak nada kefanaan merujung kedustaan, elegi pun terlalu banyak menguras air mata.
cintaku tak seutuh lagi,
pada segenap hati yang pernah menancap pada rongganya atma.
hatiku telah pecah lesap
karenamu.
wahai Tuhan yang mengejawantah, mengapa engkau menciptakan hati yang mudah merapuh ?
dari hal partikel kecil pun tak sanggup aku menjalani hari-hari tanpamu.
kukoyahkan hidupku hanya untuk mendapatkan sedikit cinta. Kefakiran yang telah kujalani tak kunjung usai, hanya satu harapan yang kupunya adalah doa, kapankah akhir dari semesta...?
kau tahu aku benar-benar sendiri tanpamu, tanpa ada satu pun menolehku bahkan roh kudus pun enggan menjamahku.
setan pun asyik bertepuk tangan, tertawa berbahagia melihat seorang hamba menangisi kepiluan meratapi pasrah.
semua yang kupunya lenyap tak tersisa sedikit pun, cemaraku telah hancur lebur katanya.
memang benar adanya
cemaraku telah punah sejak dulu kala.
doktrin - doktrin cinta yang selama ini kupegang teguh kini rantas, hanya tersisa kegeganasan membalur kebencian yang menjarah.
puisi - puisi hanya kumpulan kiasan yang mengambarkan keindahan nan syairan bersyahdu, terkadang mencerminkan kritikan pedas. Malamku yang semakin suram, menambahkan kelam beraroma khas nuansa kepatahan, hingga aku tunawisma di depak dari persinggahanmu.
tawaku tak lagi seperti dulu, sesekali aku melihatmu dari pandanganku tetap saja
elegiku semakin hancur, melihatmu bahagia lepas, tanpa adanya penyesalan sedikit pun.
aku kewalahan melawan
hatiku sendiri bahkan tidak berkutik sama sekali di depanmu,
aku tidak mau hatiku meronta menyebut namamu lagi di balik rapuhnya atmaku.
selalu saja aku menampar diriku agar aku tetap sadar bahwa kau telah pergi, dan menghapus memorymu dari setiap kalbuku. bagaikan orang kesetanan yang ingin melupa siapa dirinya...?
nampaknya luka yang kau tancapkan semakin subur dalam kiatan afeksiku.
hahaha... hahaha
caramu yang begitu elegan tak mampu aku hindari sama sekali.
kepada api yang meleburkan segalanya hingga menjadi abu mati
aku berterima kasih kepadamu telah memelukku secara hangat mempesona lalu di leburkan bagaikan bejana yang siap di lahap lahar panas.
bahkan senja yang aku suka selama ini tak lagi bermaktub.
bagai embun yang menetes di langit biru,
hanya kelingan air terjun
membasahi bebatuan.
guncangan pada cemara serta olehmu jua semakin menusuk afeksi pada atmaku yang mudah meretas paksa, senyum yang mengiris atma mengelabui tangisan.
persinggahan pun menjadi lahar panas layaknya neraka yang siap meledakkan zat atom, tak mampu terjamah lagi olehku.
kapan rahasia Tuhan
bermain lagi dan waktu Tuhan kan muncul hingga kebahagiaan berpihak pada kalbu yang terlalu menunggu kefanaan.
acapkali aku memejamkan mata mendengar rintiknya hujan dan menata doa agar terlihat bersahaja, mencoba mengatur nafas hingga aku merasakan ketenangan.
aku tersadar diri kau tak akan mungkin kembali pada pelukanku yang fana, sesekali aku menyahlakan sebatang rokok.
Terlihat olehku tiga kumpulan api, asap, dan abu. Kau adalah api yang dulu pernah menghangatkanku,
kau juga seperti asap yang tiba - tiba pergi di hempaskan oleh angin, hilang begitu saja.
sedangkan aku adalah abunya yang siap di depak dari asbak sebagai tempat persinggahan hingga aku benar - benar tunawisma.
Pangeran Langit
Tidak ada komentar:
Posting Komentar