Rabu, 05 Mei 2021

Sebuah Sajak Tercecer Di Trotoar

**

Kudongengkan padamu, hei kalian! (Para Be de bah!)
sebuah kerajaan di mana tahta menjadi rebutan
bandit, cukong, anjing-anjing lantang menggonggong
kaum biadab nyaring melolong
kosong melompong
TONG KOSONG!

Kau akan dengar betapa lucunya kerajaan itu di pupuk tembok kebodohan
kaumnya diasuh kejalangan
tata krama tak beraturan
jidat-jidat membentur jilat lidah pencitraan

Mampus kau di koyak-koyak sajak
jejak terinjak cinta di tolak
pujian segala rayu mengacak-acak
luar pintu dalam ruang suka duka mengembangbiak

Kaum biadab!
rajanya di setarakan tuhan
puja puji di jalan sesak merambat pengap
memang kau bangsat!

Apalah aku hanya sekadar remahan kata
Tak pernah melangit di antara diksi yang merana
Hanya buih yang lekas menua
mati dalam asa

Aku lah, rakyat jelata di gilas modernisasi kerajaan
Maling, nyopet, jagal, mutilasi kebiasaanku bekerja
Aku lebih biadab, tapi punya rasa hormat
Bukan seperti kau keparat!

Raja dan anteknya bebas menenjang siapa saja
Tetapi mendewakan penyair yang karya orang lain saja tidak di terima
Puisi baku, kalimat klimaks, majas klimaks, tidak pernah diajarkan dalam bahasa sajak
Tetapi si dewa dengan bangga lantang bersuara ha ha ha

Cuih, persetan dengan rayuan busukmu
mati saja kau di koyak sajak yang media saja tidak menerima
kau merasa hebat, menganggap dirimu maha guru
tetapi, arahanmu salah melulu
teorimu tidak lebih ubahnya ulat bulu
mari kita anjing-anjingan, biar sesama bangsat teriak keparat!

Pojok kamar, 2019
Si tukang becak

Tidak ada komentar:

RAMADHAN TANPA IBU

Aku memendamnya hingga hari-hari penuh berkah datang Semesta seakan berbisik agar hati menjadi lebih lapang Mencium aroma kurma yang menggod...