Rabu, 05 Mei 2021

Teruntukmu - Jangan Injak Nara!


Karya : Peramu Diksi, AlangRaka, Luan dan Pangeran Pelangi


(Peramu Diksi)
Aristokrat?
Empat sahabat ambil alih kerajaan kalimat per kalimat!
Kalau tidak suka, pergilah selagi sempat
Karena puisi ini akan sedikit hangat

Katanya paham estetika tapi sedikit pun tak mengerti tentang apa yang kau lihat
Aku coba bertirakat dalam selimut hitam pekat
Tapi kau bangunkan mulut liar yang tengah rehat
Dengan rapalan-rapalan murahan penuh sesat
Catat!
Belajarlah untuk berkhidmat! 
Ini nasihat!

Setiap puisi punya penikmat
Bisa jadi mukjizat atau kutukan paling keramat!
Bisa atas nama lidah rakyat atau ludah konglomerat
Terpenting adalah jangan asal melontar kalimat


(Luan)
Hei…!
Jangan berkoar lompat-lompat di tempat
Bendera persaudaraan yang seharusnya berkibar malah kau lipat
Gawat…
Pengkhianat ternyata masih ada, bangsat!
Keturunan laknat makin tak sehat!
Lebih baik kembali sunat!
Atau kemaluanmu kau ikat sambil bersejingkat!

Kau telanjangi sajak-sajak di muka umum
Menggugat hikayat tanpa isi terangkum
Membabat habis dengan lidah dan otak mesum
Dengarkan aku! Dan ingat jangan asal mengaum! 
Buah retorikamu belum ranum
Diksi-diksimu masih stadium medium
Sudahlah! Cukup saja bermakmum
Atau jadi almarhum!

Ayat-ayat ini dengan penuh rasa hormat aku angkat!
Jangan coba-coba untuk plagiat
Kita beda kelas sahabat!
Kalau kau ingin belajar, sini mendekat, biar aku privat!
Dasar psikopat!


(Pangeran Pelangi)
Mari, sama-sama membela yang benar
Jangan samar-samar dalam kamar menyamar diskusi tawar-menawar
Karena kebenaran bukan barang untuk tukar-menukar
Sekalipun harus memar, bertengkar, nanar, pudar
Selama atas nama kebenaran yang bisa dipertanggung jawabkan
Jiwa dan raga, siap terpisahkan!

Penyair harus saling menghargai itu harga mati
Bukan menyihir lalu menyiar baris-baris caci-maki paling basa-basi
Sampai mulut berbusa-busa dan lupa cara menghormati
Lalu mati dalam keadaan tak tahu diri

Terjaga sampai pagi
Minum kopi hidangkan diksi
Lagu-lagu memenuhi dan menemani ruang imaji
Lagi-lagi mendapati di depan meja ada tamu yang tak punya hati
Diberi rokok tapi tak tahu cara berterima kasih
Aku simpati!

Sini! Mari kita berjabat
Aku nikahkan dan kawinkan engkau manusia tanpa adat
Dengan seperangkat hati berkarat diparas pucat 
Serta badan mulai bercucuran keringat
Bagaimana, sah?
(Sah…)
Bedebah!

(AlangRaka)
Seharusnya kau lebih bijak dalam bersajak
Ujung-ujungnya kau pertontonkan diri untuk diarak dalam tawa terbahak-bahak
Akalmu sendiri sengaja kau injak-injak
Tak punya otak!

Ini bukan ujaran kebencian
Tapi cara membungkam lalu menikam
Para setan berkedok malaikat, bangsat!
Kau memang pandai, lihai, merangkai aksara
Namun dangkal dan membangkai soal makna!
Kau nyaris sempurna tentang sastra
Namun mirisnya tak punya fakta, asal mantra!

Kalau tidak kuat!
Silakan istirahat!
Minum obat!
Tapi jangan juga minum “obat kuat!”
Itu semakin membuatmu terlihat memelihara bodoh dan bejat!
Tenang saja kami akan melayat
Datang dengan sebuah ucapan selamat
Selamat! Sekarat!
Ssst…sebentar, sepertinya ini terlalu berat!
Biar aku ralat
Puisi ini untukmu! Asu!


Bone, 01 September 2019, 11.44 WITA

Tidak ada komentar:

RAMADHAN TANPA IBU

Aku memendamnya hingga hari-hari penuh berkah datang Semesta seakan berbisik agar hati menjadi lebih lapang Mencium aroma kurma yang menggod...