Oleh : Mata Langit
Saudara saudara!
Mari sini kumpul merapat mendekat
Kubacakan tulisan sampah kutu busuk
Cuiihh...
Satu catatan pengrajin hati di pagi yang
ranum
Saat semua jenis manusia telah terbuka mata dan terjaga
Orang-orang bejibun bersiap-siap buka gawai
Dari saluran selubung isi otak yang ramai
Anak bawang harian yang gigih meminta tegarku
Ada yang berbisik supaya di bimbing
Mereka seolah yang paling amatir
Ini dunia, belum surga!" kataku memelas
Sejenak, bolehkah aku menangis
Dii luar sana perbedaan cara berfikir
Sering dianggap kaku dan terlalu idealis
Ada kala berjuang tak dihargai harga setimpal
Biarkan sebentar saja aku merenung
Meretas dada yang penuh sesak kegagalan
Diluar sana harapan-harapan kecil
Teramat sering diperlakukan tak adil
"Ini proses, bukan hasil!" sorak sekitarku,
dengan sorot mata yang tajam dan tegas
Haa...haa...haa...
Apakah negara kita anarki, penerusnya tak punya budi?
Sebab, toleransi sekadar celoteh tak diimplementasi
Tak menghargai, malah menghujat; mengompori kontroversi
Mengundang konflik akan distingsi agar sesama tak berintegrasi
Saling mengolok-olok, mengintimidasi dengan golok
Mulut serupa comberan, penyebab saling cekcok
Menyebar provokasi, menengarai bentrok
Tukang gerecok sok pintar, padahal akhlak sangat bobrok
Ke manakah pikiran taruna-taruni bangsa?
Bila jarinya menyebar dusta sana-sini tanpa dibaca
Memicu perselisihan, baginya kelakar, “Sekadar canda."
Tanpa nurani, bermain bara api; telatahnya sungguh dursila
Masihkah ada benak, apakah baya masih anak-anak?
Menimbulkan parak, akan kontras yang menjelma genggang berjarak
Merapus lewat teknologi, dibumbui provokasi; makin rangak
Wajarkah dibilang bijaksana?
Haa haa haa haa
Anjing,palkon
Bila kebijaksanaannya memancing perkara
Sekadar bahan untuk berbesar kepala Nuraninya ternoda dosa
Bulsit,bansat
Apakah ini generasi emas?
Tingkah yang tak lagi waras
Melewati batas, sepatutnya mendapat kecaman keras
Wahai kutu busuk
Lihatlah!
Masih adakah hati yang berisi?
Ketika logika sudah berbau terasi
Ketika nurani kian tererosi
Di kilatan hujan pesona yang tidak kunjung
basi
Haa haa haa haa
Dendangan pujangga duplikat dan antek-antek pengecut
Penuh kegiatan sinetron mengejar pujian
Ketika replika sibuk pesta ghibah
Kucing justru giat pamer gusi
Terbuai diempuknya pujian para ingusan
Keparat... Omong kosong lihatlah!
Gempita riuhnya pembicaraan ruang pamer
Menumbuhkan nurani yang semakin
membesi
Saat sejawat butuh edukasi
Namun justru di kremasi
Jahanam cabul kencur
Agggrrrhhh, sudahlah!
Ini bukan demonstrasi
Ini juga bukan emosi
Ini hanyalah puisi
Dari yang hidup namun sesungguhnya mati!
Salam Perlawanan Sadis
Ritme Dosa
Kediri, 6 Desember 2021
Tidak ada komentar:
Posting Komentar