Oleh: Mata Langit
Disuatu senja berkelabu
Meliuk-liuk menikam dengki
Kala nurani menolak
Tuturan hina yang berceceran
Rintik pun runtuh berjatuhan
Saat rumputan menghelai kusam
Melangkah dengan sebilah pena
Yang kemudian dipatahkan dengan keras
Terasa diri hina
Hingga tatapan buram nan sayu
Akan nanar sehelai karya
Terhapus ruang fana
Tertegun nan Kesima
Ketika syair itu dirobek,
Berdesingan dengan peluru ludah
Menendang langkah seorang penyair
Bosan mulai menghampiri
Untuk mengoreskan sebuah rasa
Menghuni setiap lambang nirwana
Akan harap tuk diterima
Mulai terdengar tawa runcing
Menggelegar penuh fitnah
Beruntaian baris sinis
Perihal plagiat yang dilontarkan
Hei apa kabar pecundang mimpi
Yang hadir dan berlindung dalam bait aksara
Puisi mu, syair mu, diksi mu sampah
Kau meracau kacau seolah perang dalam aksara
Tetapi tak ada makna yang kau tebar dalam sastra
Hanya ocehan belaka yang kau rangkai dalam kata
Begitu kah yang kau sebut sebagai sastrawan.
Begitu kah yang kau sebut sebagai seniman
Bodoh kau...Omong kosong semua...
Kau tak ubahnya hanya seorang pemimpi
Menulis sembarang seenak hati tanpa peduli
Menulis cerita seolah kau yang tersakiti
Heleh... Cuihh... Najis
Apakah yang kau cari... empati kah...
atau kah harga diri.
Ah... Sudah lah... semua itu basi...
Jadi lah diri mu sendiri
Jangan menghakimi dengan literasi
Ha...ha...ha... ha...ha...ha...
Ya,ku akui kau sempurna
Melumpuhkan sebuah asa
Berlontar hinaan merdu
Bersuka cita dalam sorak
Ingin kuteriak dan adukan pada Sang Maha
Agar semuanya larut dalam sebuah rintik
Karena karya bukan sebuah dusta
Melainkan sebuah peluh kejujuran
Kediri, 12 Oktober 2019
Tidak ada komentar:
Posting Komentar