Senin, 06 Desember 2021

SENANDUNG KONFLIK


Oleh: Mata Langit

Disuatu senja berkelabu
Meliuk-liuk menikam dengki
Kala nurani menolak
Tuturan hina yang berceceran

Rintik pun runtuh berjatuhan
Saat rumputan menghelai kusam
Melangkah dengan sebilah pena 
Yang kemudian dipatahkan dengan keras

Terasa diri  hina
Hingga tatapan buram nan sayu
Akan nanar sehelai karya
Terhapus  ruang fana

Tertegun nan Kesima
Ketika syair itu dirobek,
Berdesingan dengan peluru ludah
Menendang langkah seorang penyair

Bosan mulai menghampiri
Untuk mengoreskan sebuah rasa 
Menghuni setiap lambang nirwana
Akan  harap tuk diterima

Mulai terdengar tawa runcing
Menggelegar penuh fitnah
Beruntaian baris sinis
Perihal plagiat yang dilontarkan

Hei apa kabar pecundang mimpi
Yang hadir dan berlindung dalam bait aksara
Puisi mu, syair mu, diksi mu sampah
Kau meracau kacau seolah perang dalam aksara

Tetapi tak ada makna yang kau tebar dalam sastra
Hanya ocehan belaka yang kau rangkai dalam kata
Begitu kah yang kau sebut sebagai sastrawan.
Begitu kah yang kau sebut sebagai seniman

Bodoh kau...Omong kosong semua...

Kau tak ubahnya hanya seorang pemimpi
Menulis sembarang seenak hati tanpa peduli
Menulis cerita seolah kau yang tersakiti
Heleh... Cuihh... Najis

Apakah yang kau cari... empati kah...
atau kah harga diri.
Ah... Sudah lah... semua itu basi...
Jadi lah diri mu sendiri
Jangan menghakimi dengan literasi

Ha...ha...ha... ha...ha...ha...

Ya,ku akui kau sempurna
Melumpuhkan sebuah asa
Berlontar  hinaan merdu 
Bersuka cita dalam sorak

Ingin kuteriak dan adukan pada Sang Maha
Agar semuanya larut dalam sebuah rintik
Karena karya bukan sebuah dusta 
Melainkan sebuah peluh kejujuran

Kediri, 12 Oktober 2019

Tidak ada komentar:

RAMADHAN TANPA IBU

Aku memendamnya hingga hari-hari penuh berkah datang Semesta seakan berbisik agar hati menjadi lebih lapang Mencium aroma kurma yang menggod...