Oleh : Mata Langit
Pagi masih jauh membiakkan cahaya
Harapan musim basah bulan Oktoter dibelah dalam gundukan harap enampuluh enam puncak jalan sunyi
Hujan berbaring di hutan penuh warna menyambut hari itu datang
Penuh semarak kembang dengan gertakan licik ataupun yang seram-seram sedap
Entah musim apa ranting waktu menjejakkan semi
Daun-daun telah gugur dihunjam angin
Akar-akar kian tertekan menyerap dan mengirim nutrisi
Sementara tak ada rerimbun yang meneduhi
Kegamangan paradoksal sungsang membaca cuaca ceracau
Melabirinkan kudapan makna sedap-sedap ngeri "seperti sebuah kisah, napas pun bagai anomali musim"
Sungguh mencengangkan kerancuan musim menelikung langkah sunyi
Tentang laku-laku luka atau bahkan kian menganga dalam peradaban duka perih rontokan pohon dan anak-anak ranting
Inilah anomali yang seanomali-anomalinya makan makna yang termutilasi pisau bertaji budaya bumi sepi terlindas jepretan foto musim kemarin
Lihat tak dilihat,
lihat tak di pahami,
suram
Rasa tak dirasa,
rasa tak dirasakan,
buram
Bicara tak didengar,
dengar tak dilaksanakan,
seram
Pamintaku, nimas sido asih
Atut truntut, tansah reruntungan
Ing sarino sawengine
Datan genggang sak rambut
Lamun adoh caket ing ati
Yen cedhak tansah mulat
Sido asih tuhu
Pindha mimi lan mintuno
Ayo nimas barengan netepi wajib
Sido asih bebrayan
Kemana arah ini berlabuh
Satu yang membangun
Seribu yang meruntuhkan
Tangisan itu meruak menjadi darah yang bertumpah
Teriakan dan gema kesakitan melanda
Hee ladalah bil tobil tobil tobil!
Belati berbisa anyir akan tepat menancap
Darah bercucuran tanpa henti
Menyirami kecemasan dalam batin dalam dendamku
Mati
Mati
Matilah!
Hahaha hahaha hahaha
Jika senyum itu masih ada
Berarti duka ini masih tertahan
Jika air mata ini telah jatuh ke bumi
Berarti sayatan pedih dan penghinaan teramat berat ku genggam
Jika airmata ini telah kering dan tak sanggup lagi menetes
Berarti episode dendam dan amarah kan berlanjut
Jika ku tak mampu padamkan api kukan undang hujan dalam sabda doa doaku
Atau kidung kematian yang ku syairkan dalam lirik dustamu yang kau semat kan di hatiku
Lihatlah!
Andai puisi ku telah bernyanyi di malam sunyi
Seisi Maya akan bergemuruh
Aku ataukah engkau yang kan
Terkubur dalam pusara penyiksaan
Sebilah belati sadis mencincang menggerogoti nan menyayati palung hidup Gigi bertaring menancapkan taringnya cakar-cakar kuku hitam menghujam insan
Aku darah nyawa penguasa yang haus darah
Ingin cekik leher untuk diteguk darahnya Kapan saja dan di mana saja tiap detik dalam setiap waktu
Wabah kematian menjelma seperti tulah memutilasi hati manusia-manusia
Racun-racun ditanamkan dan terus berkembang
Kematian tertawa gembira memecah leluasa di tanah iblis
Di atas takhta tanah air nyeri ngeri musnah kian masif dan nyata
Hahaha hahaha hahaha
Lihatlah!
Andai kidung ku telah berdarah
Kan ku kikis dendam-dendam ku yang berkarat
Aku adalah aku!
Jiwa rapuh titisan darah penguasa
Darah Jawa Danyang berdarah dingin
Kediri, 1 Januari 2023
Tidak ada komentar:
Posting Komentar