Oleh: Mata Langit
Bagaimana aku bisa menyalahkan angin
atas kekacauan yang menderu di dadaku,
jika akulah yang membuka jendelanya
dengan tangan gemetar penuh harap—
menunggu kau masuk bersama cahaya,
namun yang datang hanyalah badai.
Aku berdiri di tepi sunyi,
memandang reruntuhan hati
yang berceceran seperti dedaunan,
disapu angin liar yang tak mengenal belas kasih.
Ah, betapa naifnya aku,
menyangka cintamu adalah sepoi lembut,
padahal engkau adalah puting beliung
yang mencabik akar kepercayaanku.
“Bukankah aku yang salah, kekasih?
Bukankah aku yang membuka jalanmu ke dadaku?
Mengizinkanmu menyalakan api di ruang yang rawan,
menggantungkan bulan pada senyummu,
lalu membiarkan malamku runtuh saat kau pergi?
Jika aku menangis,
bukankah itu hanya gema dari keputusanku sendiri?”
Maka janganlah kau kira aku akan mengutukmu.
Aku hanya mengutuk diriku—
yang terlalu berani menjemput luka,
yang terlalu percaya pada janji bintang,
yang menukar kewaspadaan dengan mimpi manis.
Angin, oh angin,
kau sekadar tamu yang kuundang.
Namun siapa sangka,
engkau membawa badai di pundakmu.
Seketika, meja kebahagiaan terbalik,
cawan harapan pecah,
dan rumah jiwaku menjadi reruntuhan.
“Andai saja aku tidak membuka jendela itu,
mungkin aku masih utuh,
mungkin aku masih bernyanyi pada pagi
tanpa rasa sesak di tenggorokan.
Tapi apa gunanya andai-andai?
Aku sudah terlanjur menjadi reruntuhan
yang bahkan angin pun enggan singgahi kembali.”
Kini aku berjalan di antara bayangan,
menyapu serpihan hatiku sendiri.
Setiap langkah terasa seperti menziarahi makam—
makam kenangan, makam janji, makam cinta.
Aku membaca doa yang tak terdengar,
selain oleh gema dalam dadaku sendiri.
Oh kekasih,
kau pergi seperti bayangan yang patah,
meninggalkan debu di mataku,
meninggalkan sepi di nadi,
meninggalkan aku pada takdir
yang sebenarnya kutulis dengan tanganku sendiri.
Bagaimana aku bisa menyalahkan angin
jika akulah yang membuka jendela?
Bagaimana aku bisa menyalahkan kepergianmu
jika akulah yang menyambutmu dulu dengan pelukan terbuka?
Kini hanya ada satu yang tersisa:
aku, duduk di kursi waktu,
memandang jendela itu—
masih terbuka,
tapi tak ada lagi yang ingin masuk.
“Biarlah,
aku akan belajar menutupnya perlahan,
menyisakan celah hanya untuk cahaya,
bukan lagi untuk cinta yang berpura-pura.
Jika luka ini harus jadi guru,
maka aku akan duduk di kelasnya,
meski air mata jadi tinta,
meski rinduku jadi papan tulis yang retak.”
Dan angin pun pergi,
meninggalkan hening,
meninggalkan aku bersama elegi ini
yang bernyanyi lirih di sela-sela retakan hati.
Bayanganmu pun masih berkeliaran
di dinding ruang ingatan.
Ia tak lagi berbicara—
hanya menatap dengan mata hampa,
seolah ingin berkata:
“Lihat, aku masih di sini,
di tempat yang tak pernah kau bersihkan dari rindu.”
Aku menyalakan lilin di dalam dada,
mencoba menghalau gelap
yang ditinggalkan langkahmu.
Namun setiap kali nyala itu membesar,
angin datang lagi—
menyapa dengan wajah baru,
menyamar sebagai harapan.
Kadang aku ingin menjadi batu—
tak mengenal arah, tak tunduk pada musim.
Tapi bahkan batu pun retak
bila hujan jatuh terlalu lama.
Dan aku hanyalah manusia
yang mencoba tegar di antara reruntuhan janji.
Ada malam di mana aku berbincang dengan cahaya,
memintanya menghapus siluetmu dari dinding jiwaku.
Namun cahaya hanya tersenyum lirih,
katanya, “Aku tak bisa menghapus bayangan
tanpa terlebih dulu memadamkanmu.”
Ah, betapa getir pelajaran itu—
bahwa untuk melupakan,
kadang kita harus kehilangan bagian dari diri sendiri.
Maka, aku biarkan saja cahaya dan bayangan menari,
seperti dua kutub yang tak pernah bisa berdamai,
namun saling melengkapi dalam luka yang sama.
Kini, bila angin kembali,
aku takkan menutup jendela,
tapi juga takkan mengundang.
Biarlah ia lewat seperti waktu—
menyentuh sebentar,
meninggalkan kisah tanpa suara.
Aku cukup menjadi ruang yang tenang,
tempat segala badai kehilangan maknanya.
Dan bila suatu hari cahaya benar-benar datang,
bukan sebagai janji,
tapi sebagai kejujuran,
aku akan menyambutnya tanpa ragu,
dengan dada yang tak lagi takut terbuka,
dan hati yang telah belajar:
bahwa tidak semua angin membawa pergi—
ada juga yang datang untuk menenangkan.
Kediri, 1 Oktober 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar