Minggu, 23 November 2025

Ketika Waktu Belajar Berdoa


Oleh : Mata Langit

Di ujung senja yang perlahan redup,
kau masih berdiri dengan hati yang lembut,
meski dunia sering menuduhmu bodoh,
karena sabar yang tak habis-habis,
dan percaya yang tak pernah kering.

Kau tetap menanam kebaikan,
di tanah yang kadang tandus oleh dusta,
menyiram luka dengan doa,
menjahit kecewa dengan ketulusan,
meski tanganmu gemetar menahan pedih.

Orang-orang berlalu,
ada yang menertawakan sabarmu,
ada yang menuduhmu lemah karena memaafkan.
Tapi langit tahu,
bahwa hati yang ikhlas selalu menyala,
meski dibungkam oleh gelap yang panjang.

Jangan takut menjadi baik,
meski dunia sibuk mengukur balasan.
Karena waktu, dengan langkah rahasianya,
menyimpan kesetiaan yang tak terlihat.
Ia akan datang perlahan,
membuka tabir yang selama ini kau sabarkan.

Mereka yang menipumu akan tersadar,
bahwa kejujuranmu bukan kelemahan,
melainkan cermin dari cahaya yang tak pernah padam.
Dan di saat itu,
Tuhan akan kirimkan jiwa yang baru,
yang mencintaimu tanpa syarat,
yang melihatmu bukan dari luka,
tapi dari keteguhan yang tak terlihat mata.

Percayalah,
kebaikanmu tak akan mati di tengah badai,
ia hanya bersembunyi di balik waktu,
menunggu saat yang paling indah
untuk kembali padamu sebagai keajaiban.

Karena menjadi baik,
meski sering disalahpahami,
adalah perjalanan pulang menuju cahaya.
Dan suatu hari nanti,
kau akan tersenyum di bawah langit yang tenang,
menyadari:
segala sabarmu, segala lukamu,
tak pernah sia-sia.

Waktu akan menjahit semua luka,
menghapus debu yang menutupi niatmu,
menumbuhkan bunga di tanah kecewa,
dan menghadirkan pelangi
setelah badai panjang yang kau peluk diam-diam.

Biarkan saja mereka berlalu,
yang pernah meremehkan hatimu,
karena suatu saat,
mereka akan kembali menatapmu—
bukan lagi dengan tawa,
melainkan penyesalan yang tak terucap.

Dan engkau,
akan tetap melangkah dengan langkah lembut,
dengan mata yang jernih,
dengan hati yang sudah berdamai dengan luka.
Sebab kau tahu,
bahwa tidak ada kebaikan yang benar-benar hilang,
hanya tertunda untuk dipetik pada musim yang tepat.

Jadi, tetaplah menjadi cahaya,
meski kadang kau harus berjalan sendirian.
Tetaplah menjadi hangat,
meski dunia membalas dengan dingin.
Karena waktu akan membuktikan,
bahwa hatimu yang tulus
adalah rumah bagi segala kebaikan
yang tak pernah punah.

Dan ketika semua berlalu,
kau akan berdiri di tepi harapan baru,
memandang masa lalu tanpa amarah,
hanya dengan senyum lembut yang berbisik:
“Terima kasih, waktu…
telah menjagaku sampai di sini.”

Kediri, 9 Oktober 2025

Tidak ada komentar:

RAMADHAN TANPA IBU

Aku memendamnya hingga hari-hari penuh berkah datang Semesta seakan berbisik agar hati menjadi lebih lapang Mencium aroma kurma yang menggod...