Kusapa sabang yang jauh dalam pandang, bersama irama detak perubahan sejarah yang melingkar melilit ingkar
Aku bertanya pada langit dan bumi
Tentang jejak tapak sejarah yang memerah berlumurkan darah
Ketika pacu perang melanda indonesia
Oleh tangan-tangan bersenjata
Kepadmu wahai pahlawan!
Ini adalah ucap ujarku, dalam hangat bakti budimu
Sabarlah datoek Maureweh ... Lirihkanlah suaramu demi damai nusantara
Kami masih disini
Menanti pengadilan suci tanah berdikari
Menjaga sang jelita serambi dihati negeri
Raden 12afAyu cut Nyak Dien,
Salam hormatku dari belahan bumi pertiwi !!!
Terlintaslah ...
juang pahlawan tak takut mati
Membuat jantung berdegup kencang
ketika melihat bingar penuh hura wajah,
dibalai-balai dewan kini,
Yang kadang berjalan beriringan bersama pejabat janji fasih penguasa kursi RI ...
Tepat pada bilahan zaman yang seakan rakus menanti kehancuran
Tangan-tangan itu makin usil dengan seribu bahasa tak pasti
tak hiraukan budi yang kian makin mengoyak harga diri negeri
Tanpa 'PERNAH' mau bercermin ...
Tak berfikir bagaimana awalnya mereka bisa berdiri dan berdasi, bertajukkan Sang-Tuan
dan berlebelkan bintang 'NEGARA'
Renungilah wahai penjajah tanah sendiri ...!
Berkali ucap jangan membias pada palsu indah pelangi
Bercerminlah ...!
Apakah di wajahmu tampak itikad perjuangan para pahlawan ...
Apakah hatimu sekuat keyakinan seorang Imam Bonjol, Patimura, Sultan Hasanudin, Cik Ditiro, Untung Suropati, Patiunus, Sultan Agung, Pangeran Diponegoro, Bung karno, dan ribuan barisan berhati suci
untuk berdirinya dan menjaga 'NKRI' ...
Mari, kita buka jendela ...
Tentang Tiga fakta berbadankan Realita
Tak cukup kah air mata mereka jatuh ketika mendengar lemparan batu dan bambu kepada petani bojong sari itu ?
Tak hiraukah saat darahnya lemah Tatkala membaca kisah kematian MARSINA dirajam mati dengan kelaminnya?
Tak puaskah kita berdiam diri, sedang mereka mati pada satu tragedi yang menewaskan Tujuh pahlawan Revolusi ...!
Mari membuka mata ...
Lihatlah pekik mereka
Dengarkan sorak-sorai takbirnya
Yang menggema ke telinga dalam catatan sejarah.
Wahai anak negeri ...
Bangunlah jiwanya ...!
Bagunlah raganya ...!
Bukanlah slogan semata
Tapi kibarkanlah merah-putih indonesia ...!
Lalu bangkitkan kesadaran untuk setia dan memberi kepada bumi
Tempat kita menanam dan rebahkan diri,
Bukan terlelap dalam tidur, lantas bangun dan menyantap makanan dari yang bukan kita tanam.
Sungguh ... Kobaran itu mengalun tak se-irama pada rasa yang SEJATI
Karena ...
Daging suci berbalut jiwa para pendekar, bukanlah tumbal buat perut pribadi
'LANTANGKANLAH SUARAMU'
Dan hancurkan tubuh-tubuh pendusta
Yang selama ini menjadi duri, menusuk saudara sendiri
Maka ...
Ku akhiri oleh sapa merauke permata timur Yang pancarkan sinar Elegi pagi
Marilah kita berbagi indah, kepada nusantara persada jiwa
Merdekalah wahai Raga-Raga kelana.
Merdekakanlah ...!
MERDEKALAH ...!
*S A L A M S A T U JIWA*
NKRI HARGA MATI
________
*rizky s harahap*
Jkt-05.08.20
Revisi lg 09.08.20
Tidak ada komentar:
Posting Komentar