Sabtu, 12 September 2020

NUSANTARA DI WAJAH PAHLAWANKU

 Kusapa sabang yang jauh dalam pandang, bersama irama detak perubahan sejarah yang melingkar melilit ingkar 

Aku bertanya pada langit dan bumi

Tentang jejak tapak sejarah yang memerah berlumurkan darah

Ketika pacu perang melanda indonesia

Oleh tangan-tangan bersenjata


Kepadmu wahai pahlawan!

Ini adalah ucap ujarku, dalam hangat bakti budimu


Sabarlah datoek Maureweh ... Lirihkanlah suaramu demi damai nusantara

Kami masih disini 

Menanti pengadilan suci tanah berdikari

Menjaga sang jelita serambi dihati negeri


Raden 12afAyu cut Nyak Dien,

Salam hormatku dari belahan bumi pertiwi !!!


Terlintaslah ...

 juang pahlawan tak takut mati

Membuat jantung berdegup kencang 

ketika melihat bingar penuh hura wajah, 

dibalai-balai dewan kini,

Yang kadang berjalan beriringan bersama pejabat janji fasih penguasa kursi RI ...


Tepat pada bilahan zaman yang seakan rakus menanti kehancuran

Tangan-tangan itu makin usil dengan seribu bahasa tak pasti

tak hiraukan budi yang kian makin mengoyak harga diri negeri 


Tanpa 'PERNAH' mau bercermin ...

Tak berfikir bagaimana awalnya mereka bisa berdiri dan berdasi, bertajukkan Sang-Tuan

dan berlebelkan bintang  'NEGARA'


Renungilah wahai penjajah tanah sendiri ...!


Berkali ucap jangan membias pada palsu indah pelangi


Bercerminlah ...!

Apakah di wajahmu tampak itikad perjuangan para pahlawan ...

Apakah hatimu sekuat keyakinan seorang Imam Bonjol, Patimura, Sultan Hasanudin, Cik Ditiro, Untung Suropati, Patiunus, Sultan Agung, Pangeran Diponegoro, Bung karno, dan ribuan barisan berhati suci

untuk berdirinya dan menjaga  'NKRI' ...


Mari, kita buka jendela ...

Tentang Tiga fakta berbadankan Realita


Tak cukup kah air mata mereka jatuh ketika mendengar lemparan batu dan bambu kepada petani bojong sari itu ?

Tak hiraukah saat darahnya lemah Tatkala membaca kisah kematian MARSINA dirajam mati dengan kelaminnya?

Tak puaskah kita berdiam diri, sedang mereka mati pada satu tragedi  yang menewaskan Tujuh pahlawan Revolusi ...!


Mari membuka mata ...

Lihatlah pekik mereka

Dengarkan sorak-sorai takbirnya 

Yang menggema ke telinga dalam catatan sejarah.


Wahai anak negeri ...

Bangunlah jiwanya ...!

Bagunlah raganya ...!

Bukanlah slogan semata 

Tapi kibarkanlah merah-putih indonesia ...!


Lalu bangkitkan kesadaran untuk setia dan memberi kepada bumi 

Tempat kita  menanam dan rebahkan diri,

Bukan terlelap dalam tidur,  lantas bangun dan menyantap makanan dari  yang bukan kita tanam. 

Sungguh ... Kobaran itu mengalun tak se-irama pada rasa yang SEJATI


Karena ...

Daging suci berbalut jiwa para pendekar, bukanlah tumbal buat perut pribadi

'LANTANGKANLAH SUARAMU'

Dan hancurkan tubuh-tubuh pendusta

Yang selama ini menjadi duri, menusuk saudara sendiri


Maka ...

Ku akhiri oleh sapa merauke permata timur Yang pancarkan sinar Elegi pagi

Marilah kita berbagi indah, kepada nusantara persada jiwa


Merdekalah wahai Raga-Raga kelana.

Merdekakanlah ...!

MERDEKALAH ...!


*S A L A M  S A T U JIWA*

  NKRI HARGA MATI 



________

*rizky s harahap*

Jkt-05.08.20

Revisi lg 09.08.20

Tidak ada komentar:

RAMADHAN TANPA IBU

Aku memendamnya hingga hari-hari penuh berkah datang Semesta seakan berbisik agar hati menjadi lebih lapang Mencium aroma kurma yang menggod...