Kamis, 04 Februari 2021

INGATLAH TUAN SUARA KAWAN BERCELOTEH


Puisi Satire

Kediri Senin 22 Juni 2020 / 09:36 WIB
Karya: Mata Langit

Kau tahu, Tuan?
Dari apa yang sedang kau nikmati
Terdapat secuil prestasi anak puisi
Namun, telah tertutup mata hati
Tak lagi kau hargai isi pesan intisari
Kau tahu, Tuan? 
Dari diksi bermakna yang terhidang
Ada sepotong milik binatang
Tapi, kau telan semuanya sampai kenyang
Tak tersisa walau berupa majas terbuang
Betapa kejam kau jadi insan
Segala yang tersaji kau habiskan
Tanpa pikir panjang sebuah pelajaran
Hanya pujian yang menjadi dambaan
Begitu tamak iras rupawan
Pemegang kuasa tak berperasaan
Menggenggam angan di balik kejadian
Padahal kebodohan mengintai kemudian
Tanpa takut hari pembalasan
Tertawa pongah penuh kenistaan
(haaa... haaa... haaa...)
Menantang ilmu dengan percaya diri
Melupa siapa pemberi hidup dan mati
Rupanya kau masih miskin
Tak perlu ditanyakan lagi mengapa
Untuk apa mengharapkan keadilan
Sedangkan fakta telah bersua bagaimana sastra itu bisa dibeli oleh empunya sombong
Sekiranya kau tak hanya sengsara di diri sendiri
Tapi kau jua selalu menjadi korban dari egomu
Nampaknya kau takkan pernah maju
Posisi mu masih sama seperti kemarin
Bicarakan perubahan dimana
Perkembangan makin memuncak tajam
Nyatanya kemiskinan dan rendah pengetahuan
Masih menjadi hal yang sulit diselesaikan laksana lampu yang hanya terang saja tapi tidak menyinari semua sisi sebuah ruang
(haaa.. haaa.. haa..) BODOH!!!
Lihatlah matahari
Dia bersinar
Sinarnya mengenai semua sisi
Bisakah dirimu seperti itu
Mungkin mulut mu ludahnya sudah sebanyak lautan
Yang sering berkoar-koar
Meneriaki dan menuntut kebenaran di diri sendiri
Mungkin yang terjadi kini adalah azab dari alam yang sudah muak dengan sandiwara yang kau mainkan
BEDEBAH!!! Cuiiihhh...
Cita-citamu tak tahu kemana
Implementasi yang mana yang dibicarakan
Hingga kini kebodohan masih ada
Kesombongan juga masih terjadi. (berhenti sejenak)

Anjing!!!

Sekarang mulai timbul  rasakekhawatiran dan pesimis mu untuk masa depan
Apakah tujuan orang sepertimu?
Yang terdiri 4 pokok pikiran itu
Masih akan bertahan hanya pada sebuah kertas yang diatasnya bertulisan rapi saja dan pelaksanaannya masih pincang
Tidak, ini bukan sebuah kudeta
Ini satire, puisi satire
Tidak, ini bukan orasi untuk melawan siapapun
Ini suara kawan yang berdasarkan fakta.
Seperti kata ku!
Ingatlah
Kau hanya manusia bajingan yang bermental babu.


Tidak ada komentar:

RAMADHAN TANPA IBU

Aku memendamnya hingga hari-hari penuh berkah datang Semesta seakan berbisik agar hati menjadi lebih lapang Mencium aroma kurma yang menggod...