**
Kau yang datang dari lembah pemata batu
Kau yang menanak dari tungku berapi hitam berasap bau
Bangsat kau lahap dengan mata buta
Menekuk lidahpun tak butuh menjulur
Ala anjing menjilat birahinya
Menusuk satu ranah seatap rasa dari belakang
Lantas kencingi pasangan sendiri
Kau yang datang dari ruang tulinya hati
Yang serupa nanah dari darah babi
Yang berendam di anak sungai nyinyir berair anyir
Yang bersyair kepada para selir
Memlintirpun kata yang terkilir
Hunuskan tajam pisau ke ranting dahan pohon sendiri tak butuh pikir
siapa dia
Matamu kau tulikan sebuta telingamu mengeja bahasa hati dengan mata kaki
Dari sepohon yang buahnya kau nikmati tega kau injak pasi
Semudah membalikkan telapak tangan lantas menepuk patat sendiri dan berlari
Entah apa yang kau kejar
Berparas menawan mampu merayu dayang surga
Rela menghirup kentut sendiri sebagai persembunyian sikap busuknya
Dari seruang kenegaraan ,perusahaan, persahabatan, pasangan sejoli bahkan sekandung badan
Tajam perkosa hak
Kau tikam
Hehehe..
Siapa dia
Siapakah mereka
Jawabnya,
Janganlah kita menjadi dia ataupun mereka
Yang arriving jarum bermata karatan
Rela menusuk kain sendiri bukan untuk mengaitkan,tapi penghianatan
Jelaskan lah...!
Kau yang datang dari lembah permata batu
Yang menanak dari tungku berapi hitam berasap bau
Yang datang dari ruang tulinya hati
Yang serupa nanah dari darah babi
Sadarkah ..
Sadarkah ..
Sadarkah?...
Sudahlah
Abaikan saja dia sungguh kasian amat takdirnya,
Maafkanlah
______________________
*AK. GURAT DJAGAD JIWA*
Kds, 06 September 2020
Tidak ada komentar:
Posting Komentar