Kamis, 04 Februari 2021

JARUM BERMATA KARATAN

**

Kau yang datang dari lembah pemata batu 
Kau yang menanak dari tungku berapi hitam berasap bau
Bangsat kau lahap dengan mata buta 
Menekuk lidahpun tak butuh menjulur 
Ala anjing menjilat birahinya 
Menusuk satu ranah seatap rasa dari belakang 
Lantas kencingi pasangan sendiri 

Kau yang datang dari ruang tulinya hati 
Yang serupa nanah dari darah babi 
Yang berendam di anak sungai nyinyir berair anyir
Yang bersyair kepada para selir 
Memlintirpun kata yang terkilir 

Hunuskan tajam pisau ke ranting dahan pohon sendiri tak butuh pikir 

siapa dia

Matamu kau tulikan sebuta telingamu mengeja bahasa hati dengan mata kaki 
Dari sepohon yang  buahnya kau nikmati tega kau injak pasi 
Semudah membalikkan telapak tangan lantas menepuk patat sendiri dan berlari 
Entah apa yang kau kejar

Berparas menawan mampu merayu dayang surga 
Rela menghirup kentut sendiri sebagai persembunyian sikap busuknya 
Dari seruang kenegaraan ,perusahaan, persahabatan, pasangan sejoli bahkan sekandung badan 
Tajam perkosa hak 
Kau tikam   

Hehehe.. 
Siapa dia 
Siapakah mereka

Jawabnya, 
Janganlah kita menjadi dia ataupun mereka 
Yang arriving jarum bermata karatan
Rela menusuk kain sendiri bukan untuk mengaitkan,tapi penghianatan 

Jelaskan lah...! 
Kau yang datang dari lembah permata batu 
Yang menanak dari tungku berapi hitam berasap bau
Yang datang dari ruang tulinya hati 
Yang serupa nanah dari darah babi 
Sadarkah ..
Sadarkah ..
Sadarkah?...


Sudahlah
Abaikan saja  dia  sungguh kasian amat takdirnya,
Maafkanlah 
______________________
*AK. GURAT DJAGAD JIWA*
Kds, 06 September 2020

Tidak ada komentar:

RAMADHAN TANPA IBU

Aku memendamnya hingga hari-hari penuh berkah datang Semesta seakan berbisik agar hati menjadi lebih lapang Mencium aroma kurma yang menggod...