**
Rembulan membisu, menjagal gerak indah bintang bintang
Tuan sanksekerta bimbang dan mencetak paras iblis di wajah insan yang memerah
Luapkan kidung alam mengelam
Mengecam pesan hati, membuat pualam suci itu kusam
Cintapun teraniaya hasrat liar..sang betina bertanduk dua
Tanduk satu, meruncing Ke depan
Yang kedua,meratap menatap ke segala arah mata angin
Sementara
Di sisi langit yang lain,tepat di ujung bulan sabit..
Tampak lelaki bersolek dengan jemari terkait arit
Membuat anak anak cinta menjerit
Dengan luka yang menanah setelah darah habis tertumpah
Meruahlah detak sang kejam
Hingga apapun tercabik dan terhantam
Bulanku pun hilang termakan rayuan sang jalang
Sedang bulan biru tak mampu merajuk api neraka untuk hentikan rayu iblis
Yang menggenggam mahkota semesta
Membaralah...!
Hiruk pikuk pun membuncah di antara bumi dan langit yang seharusnya memadu rindu
Oleh sang betina bertanduk, merupa iblis,selalu siap meremas syahdunya malam malam
Bahkan getarannya hampir merobek langit dan menggasak habis isinya..
Membuat kelam mata insan tuk kembali pada jalan yang benar
Begitu nanar matanya seakan melahap apapun yang ada
Tubuh fajarpun menggigil seribu bahasa bekukan itikad menyambut pagi
Jangan lemah wahai sang insan
Jangan ragu sang tuan dan puan..
Di antara bulanku, bulan biru dan betinanya diri
Akan lirih dan luruh oleh ketulusan
mentari hati
Yang hangat sucinya akan membakar bulan betina iblis biru
Dendangkanlah harapan itu ..
🎶(bait pertama kidung wahyu kolosobo) 🎵
Dari demikianlah.. pemimpin para bintang tak di lengahkan atas penggembalaannya kepada dunia
Agar terjaga keseimbangan
Lantas,
Bagaimana upaya akal fikiran dengan hati sendiri ?
Terfikirkah awan hitam kadang menutupi pancar mentari?
Akhirnya...
Masihkah menunggu jatuhnya Bulan ke bumi baru kita berdiri dan berlari mengejar sang waktu huahahaha.. .
Jangan terlambat...
Mari renungi diri berharap damai bersama Penghuni Hati
__________
*AK. gurat Jagad jiwa*
Kudus. 17.08.20
01.40 wib
Tidak ada komentar:
Posting Komentar