Kamis, 04 Februari 2021

SAJEN SUGIH TANPO BONDO



Kediri 25 Juni 2020 / 07: 48 WIB
Karya: Mat Langit

Sukma merasuki nalar belambang hitam
Ruh mengorek lobang nalar setiap kepala
Pusara kata pribadi menggores waktu, m
tak kenal zaman yang sudah berubah
Nalar kedunguan mendorong kejalan yang sesat
(haa.. haa.. haa..)
Seloroh pusaka tua
di basahi air keramat di mandikan kembang tujuh rupa
Sajen..
Nalar mengukir langit
berlidah ingusan darah
Mawar-mawar ruh pusara
Tidak mewahyukan orang" ingkar
Terusik saat "warisan kata-katanya menjadi haluan ajaran keramat"
Ini bukan mainan!
Wajah-wajah tumbal mempusara malam ini
Mati terkubur ditimbun mantra kaum sesat
Nalar tidak berguna di sini!
(haa.. haa.. haa)
Hanya ilusi..
Mengusik..
Menggelitik..
Memantik..
Saat doa-doa memanjang di lantunkan
Lidahmu terhempas sembunyi terkubur dalam sunyi
"Sugih tanpo bondo
Digdoyo tanpo aji
Trimah mawi pasrah
Sepi pamrih tebih ajrih
Sugih tanpo bondo
Digdoyo tanpo aji
Trimah mawi pasrah
Sepi pamrih tebih ajrih
Langgeng
Tanpo susah, tanpo seneng
Anteng mantheng
Sugeng jeneng
Langgeng
Tanpo susah, tanpo seneng
Anteng mantheng
Sugeng jeneng"
Lantang melantun
Lancang menyamun
(haa.. haa.. haa)
kau penuh janji
untuk diingkari
Dimana kubahan "Hong wilaheng wilahong wilaheng" yang biasanya kau sematkan di sisi ritual sakral
Sajen..
Bertebar mawar kematian
Tenang berhasrat
Tentukan jalan hitam
Pasrah menjiwa tiada sesat
(hii.. haa.. haa..)
Kepada yang memanggil angin
Mari dentingkan gelasmu sekali lagi
Disini
Sedang bakar menyan
Seperti ada ribuan yang akan tiba
Para arwah gentayangan
Yang terbang diantara gulungan-gulungan asap
Makinlah harum
Menyeruak tajam di liang-liang hidung
Kemenyan memanggil
Membuka jalan bagi yang sedang tersesat
Bagai jejak-jejak petunjuk
Untuk yang sedang mencari jawab
Atau yang sekedar ingin "sambang"

Tidak ada komentar:

RAMADHAN TANPA IBU

Aku memendamnya hingga hari-hari penuh berkah datang Semesta seakan berbisik agar hati menjadi lebih lapang Mencium aroma kurma yang menggod...