Kamis, 04 Februari 2021

MANGKUJIWO SUKMAKU TERPASUNG



Kediri Senin 22 Juni 2020 / 21:14 WIB

Karya: Mata Langit



Lamunan malam begitu sepi
Serapah nyanyian tanpa terlewati
Jeruji jiwa tak bertepi
Detak jarak membaur hening
(Diam sebentar)
hiii... hiii... hiii...
Menari dengan bayang dalam tenang.
Bercerita dengan sepi dalam kesendirian.
Kesunyian dalam keramaian yang mencekam.
Menikmati manis dalam kepahitan.
(menangis)
Mataku melihat namun hatiku terpaku.
Tubuhku kaku sedang jiwaku memaksa berlari.
Tubuhku lunglai namun mindaku mengangkasa.
Rasaku bergelora saat ragaku memaksa tak kemana-mana.
Kebahagiaan terpasung di saat anganku mengangkasa
Ada rasa yang terpasung disudut hati
Bak seorang sandera yang terbungkam lemah tak berdaya
Yang menjerat erat sampai tak tersurat
Sukmaku yang terpasung
Terbelenggu rasa yang begitu tersiksa
Sampai kapan aku membisu tak bersua?
Sampai kapan aku memendam kebencian?
Sungguh ini bukan candaan!
Dirimu yang bertahta dalam relung hati
Dendam... dendam... dendam
Suara lirih penyiksaan kunyanyikan
"Mingkar-mingkuring ukara
Akarana karenan mardi siwi
Sinawung resmining kidung
Sinuba sinukarta
Mrih kretarta pakartining ilmu luhung
Kang tumrap ing tanah jawa
Agama ageming aji
Lingsir wengi sliramu tumeking sirnjo Tangi nggonmu guling
Awas jo ngetoro
Aku lagi bang wingo wingo
Jin setan kang tak utusi
Jin setan kang tak utusi
Dadyo sebarang
Wojo lelayu sebet"
Jangan mengenalku.Sudah ku bilang, jangan...!!!
Kau pasti menyesal
Lalu berpaling menghilang!!!
Diriku hanya perempuan kotor yang penuh dendam
Yang kerap menganginkan diri  agar mampu bertahan dalam perjalanan
(menangis)
Namun mengapa?? (nada tinggi)
Riuhku hanya menjadi leburan badai
Diamku kira isak tangis perempuan luka
(menangis)
Setelah semua tahu.....
Fitnah sedang memasung tubuh dan tawaku
Gurauku tak mampu lagi kembali
Maaf, sakitku sudah terlalu ironi
Senyumku kini palsu dan biarkan kurantai saja tawa dalam dada
Hanya  karena ucapan yang diadu-beradu
Dan membuat peradaban menjadi merenggang kacau dalam kematian.

Tidak ada komentar:

RAMADHAN TANPA IBU

Aku memendamnya hingga hari-hari penuh berkah datang Semesta seakan berbisik agar hati menjadi lebih lapang Mencium aroma kurma yang menggod...