Singa menganga tunjuk taring dengan nyaring
Meraung-raung dalam ruang-ruang tak bergeming
Lantas, untuk apa jadi raja dalam rimba?
Kalau budakmu sendiri kau sembah sebagai hamba
Jangan tanya kenapa diksiku terus berani beraksi
Karena kata sembunyi dari bunyi-bunyi adalah permainan yang paling basa-basi
Kau bicara tentang negeri ini
Tapi kau sendiri tak mengerti apa yang terjadi
Benar-benar konyol!
Bermain-main dengan kata-kata memang permainanku
Aku bukan ahli tapi aku tahu
Bahwasanya bahas-bahas bahasa adalah asa-asa untuk rasa-rasa bukan teriak asu-asu atau berkusu-kusu isu-isu yang nafsu kau jadikan susu, kan asu!
Di atas langit masih ada langit
Maka jangan terus-menerus berjinjit
Sombong itu penyakit, jangan sampai terjangkit
Bersusah payah kumat-kamit dengan kalimat paling pahit agar dibilang menggigit sakit, membunuh kenyat-kenyit dengan ramu rima rumit, tapi hipokrit, kan asal jerit!
Salam jari tertinggi tanpa hormat
Puisi keramat ini untuk mereka yang melempar sayap-sayap kalimat sayat-sayat tapi mau dibilang hebat, sampai tak ada obat, sini mendekat, lebih merapat tanpa sekat-sekat, satu kata “keparat!”
Kau rendahkan karya-karya orang lain
Seakan-akan karyamu lah yang maha
Sementara mahakarya tak berasal dari sikap seperti itu!
Saling menghargai di atas kertas serta mulut mengulas cerdas
Itulah etika paling berkelas!
Salam jari tertinggi, peramu diksi.
Bone, 24 Agustus 2019, 22.22 WITA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar