Rabu, 05 Mei 2021

Laki-laki, Menyetubuhi Hati



Kediri: 01 Juli 2020 / 21:11 WIB

Karya: Mata Langit



Jangan pernah tanyakan jenis kelamin saya!

Saya adalah 

kepala, 

mata,

lidah,

suara, 

hati, 

nadi, 

darah, dan kaki.

Sebab saya adalah satu tubuh yang menyatu

Menengok isi kepala dengan keseimbangan jiwa-raga

Mata... terbuka hingga merata bersama kebaikan, melihat secara utuh dan menyeluruh

Lidah... mengecap segala rasa yang telah ada, tata gerak ucapan disandingkan untuk menyapa

Suara dari laki-laki saat menorehkan warna zaman yang binal

Kau ingat!

(haa.. haa.. haa..)

Hati... yang berbicara pada keadilan, menangkap segala paham yang bengkok untuk tindak-tanduk yang berwarna salah dan benar

Nadi... mengantongi segala belati di hati, baik buruk kepada rasa percaya yang masih menukar rupa

Darah... mengalir ke seluruh tubuh hingga tak kuasa menahan segala dosa yang jatuh di atas zikir doa-doa

Kaki...yang tak beralaskan setia menggontai langah menuju ruang zaman yang riuh

Aku adalah laki-laki yang membesarkan hati, bukan belati

Kau paham dengan semua ini,

Bedebah... cuiiihh...

Aku lelaki, hidup setubuh hingga semati

Kepada tubuh yang sehat merawat ingatan!

Membesarkan luka-luka untuk giat melawan lupa!





PESAN DALAM DIAM

Puisi Satire

Kediri 04 Juli 2020 / 17:46 WIB

Karya: Mata Langit



Lupakah kalian kata pepatah lama?

Jika tak bisa bertutur yang baik, sebaiknya diamlah saja

Atau malah baru kali ini kalian mendengarnya?

Lalu tahukah kau perihal akhlak dan darma?

Kalau kukatai kau manusia perusuh nan durjana

Pastilah seketika kau ingin menghantamku dengan murka

Tapi memangnya sebutan apalagi yang pantas untuk orang yang begitu tega

Menghasut teman sendiri di saat sedang dilanda prahara?

(haa.. haa.. haa..)

Bangsat!

Jangan memperkeruh suasana dengan menyebar berita mengada-ada 

Informasi palsu

Kabar angin yang kian memancing huru-hara

Hanya menambah kepanikan dunia halu

Memangnya dari kekacauan itu kalian berharap akan mendapat apa?

(haa.. haa.. haa..)

Konyol!

Bagimu aku adalah diam

Terasa hampa tanpa kata yang tak bersahaja

Membungkam senyumku menyerupai mulut-mulut amat kejam

Tidak!

Bibir-bibir cerita meludahi dirimu tapi kau nikmati

Menyekap jutawan kata kotor di setiap larik katamu

Bahwa bibirmu masih hangat dengan cerita yang tak berbobot

Jangankan menarik, penting pun tidak

Bedebah!

Itulah rasa dan kelemahanmu

Pandai saja berisik tuk memanggil pesan nada tinggi

Hingga aku berkorban tuk mendengarkan

Perihal pesan-pesan yang kau lomtarkan

Anjing!

Air ludahmu tak semanis buah manggis

Dan katamu tak sepandai akalmu

Kalau kau melakukannya hanya untuk hiburan belaka

Tolong, belajarlah untuk memiliki selera humor yang normal saja

Atau kau bermimpi itu bakal mendatangkan kekuasaan dan pujian?

Heleh.. cuiihh..

Jika mahir kalian merangkai kata, tuliskanlah pesan-pesan yang membangun jiwa, bukannya membodohi sesama

Bila terluang waktumu hingga berkhayal, pergilah saja

Kau memang tiada guna!

Tidak ada komentar:

RAMADHAN TANPA IBU

Aku memendamnya hingga hari-hari penuh berkah datang Semesta seakan berbisik agar hati menjadi lebih lapang Mencium aroma kurma yang menggod...