Oleh : Papi Radja & Aurora Senja
π¨
Masih dengan cerita yang belum bertemu ujung dan pangkalnya
Diantara melepaskan atau memperjuangkan cinta yang terlarang
Majuku, mundurku, bahkan bertahan di posisi yang saat ini sedangku pijak dadaku terasa sesak
Puan..
Harus kau tau, betapa berat aku jalani semua,
apalagi mendengarkan cibiran mereka, membuat semua hiporia romansa menjadi sayatan luka
π©
Tuan..
Berulang kali ku katakan aku tak peduli
berapa kali ku jelaskan rasa ini hadir karna Illahi..
Harus berapa banyak lagi puisi untuk meyakinkan agar lebih berani..
Masih saja dirimu berkutat dengan rasa takutmu,
Masih saja kau ragu melangkahkan kakimu berjalan beriringan denganku..
Masih kurang hebatkah aku perihal mengagungkanmu
Hingga setiap yang kau utarakan hanya menggambarkan warna abu
π¨
Bukannya aku ragu,
Pahami posisiku, lihat keadaanku..
Aku mencintaimu, aku membutuhkan, bahkan sangat menggilaimu..
Bukan berarti aku tak ingin memperjuangkanmu,
Tapi, Bagaimana dengan mereka yang tidak mengaharapkan kehadiranmu,, Puan..
Bagaimana dengan mereka yang menjadi tanggung jawab utamaku..
Bagaimana aku akan mempertanggungjawabkan tugasku.. Sebab telah memilih hidup bersamanya..
Aku hanya ingin kau bahagia, meski tanpa aku di sana
π©
Aku tahu, aku paham, dan aku mengerti
Sejatinya wanita mana yang sudi cintanya terbagi..
Bukan aku, apalagi dia
Tapi bagaimana mungkin aku sanggup pergi jika hatiku telah kau kunci serapi ini..
Pergi, berhenti, atau melanjutkan apa yang sudah ku mulai, seolah tiada arti..
Namun sekali lagi ku teguhkan hati untuk tetap kembali bersamamu, mendampingimu
Karna pergiku pun akan meninggalkan luka yang tak kalah ngilu..
Apalagi harus membayangkan kau menemukan dia yang berikutnya..
Aku tak sanggup, hatiku tak kuasa..
π¨
Bukan tentang mereka yang baru, bukan tentang kenyamanan yang berikutnya..
Ini semua tentangmu,
Aku tak ingin kau jatuh terlalu dalam..
Aku tak rela kau hanyut dalam asmara romansa berujung luka
Aku tak ingin membangun semua pengharapan di masa depan, yang perlahan akan meninggalkan bahkan hanya menjadi bayangan
π©
Pernah sesekali ke egoisanku mengacaukan akal sehatku,
Seringkali keinginan memilikimu membuncah dari rongga dadaku..
Namun ku tepis lagi, lagi, dan lagi..
Karna dekapmu bukanlah ruang untuk bernegosiasi..
Disana ada hati yang tengah kau jaga,
Ada mereka yang tengah kau utamakan kebahagiaannya..
Hatiku melebur, tulang belulangku bahkan hancur
Ngilu ku bertambah pilu melihat kau membahagiakan dia,
Aku tak rela jika bahagiamu hanya dengannya.
Lihat aku disini yang juga ingin merangkai kebahagiaan seperti yang ia hadirkan..
Atau bahkan aku mampu memberikan lebih dari itu..
Tuan..
Egoiskah aku?? (Tidak..)
Salahkah aku dalam menempatkan rasaku??
(Tidak..)
Terlalu berlebihan kah aku perihal mencintaimu? (Tidak Puan..)
Atau aku harus pergi, meninggalkanmu dan mematikan rasaku??
π¨
Apa??
Coba kau ulangi??
(Atau aku harus pergi, meninggalkanmu dan mematikan rasaku?)
Apa kau pikir mudah bagiku untuk berbagi waktu denganmu
Apa kau pikir gampang untukku memyembunyikanmu
Apa kau pikir aku bahagia melihat kau mengarungi samudra tanpa nahkoda
Aku sedang berusaha menyatukan dua insan yang berbeda pandangan..
Kau tau, sekeliling kita mencibir, sebab cinta kita akan berujung getir..
π©
Akan ku tunjukkan pada mereka yang mencibir,
Bahwa aku tak pernah salah dengan rasa yang hadir
Aku tak ingin di persalahkan dengan apa yang aku pertahankan
Namun hari demi hari membuatku jatuh,
Otak dan hatiku seakan lumpuh,
Seolah sendiri aku disini memeluk duri yang kau tancapkan dalam nurani..
Pernah ku tanyakan apa yang bisa ku harapkan dari mahligai ini..
Apa yang patut ku banggakan dari kebodohanku mengagumi..
Tapi..
Berkali-kali kau yakinkan hati karna ini semua misteri illahi.. (ia, ini masih mestri)
Tuan..
Untuk ke sekian kali kau damaikan hati dengan segala bujuk rayu yang kau selimuti diksi
π©
Puan...
Bukan hanya diksi, bahkan meminta pada illahirobbi masih terus ku jalani
Agar kau berada Disini, mengarungi samudra dan akulah sebagai nahkodanya
Membangun mahligai di syurgaNya
Bahkan sampai di keabadian bukan hanya cerita di dunia
π©
Kulangitkan doaku untuk memintamu
Ku selaraskan langkahku agar mampu membersamaimu
Semoga kelak kita di persatukan tanpa satupun kata ragu
π¨
Puan..
Doakan aku.. (Selalu)
Memintalah pada illahi.. (Pasti)
Langitkan semua untuk kita.. (Tak pernah aku lupa)
Tetaplah melangkah bersamaku dalam do'a.. (Tanpa kau minta)
π¨
Doamu, doaku, bahagia kita..
π©
Doamu, doaku, harapan kita..
Goresan tinta hitamku
Lampung - Jawa Timur, 04 Maret 2020
Papi Radja dan Aurora Senja
Tidak ada komentar:
Posting Komentar