Ketika logika tak lagi bekerja
Mulutpun tak mampu bercerca,
Di atas kertas pena merangkai kata
Menulis bait-bait luka
Di bawah lampu pijar pada malam sunyi
Buku-buku usang menjadi saksi
Ada netra menteskan air tak terhingga
Menangisi sebuah kisah yang tak lagi memiliki rasa
Seperti cermin pecah tak bisa kembali utuh
Hati yang rapih kini kembali rapuh
Sebab pilu menyayat hasrat dalam asa.
Sakit tak terduga menyesakan dada
Hingga lelah dengan kenyataan di depan mata
Kasihku kau bagai bunga mawar hitam
Harum semerbak menggoda dengan aroma tajam
Tapi durimu menusuk perih dalam sanubari,
menyiratkan sesal merambah kelam
Dan kini aku hanya terdiam
Kau singkirkan aku bagai sampah busuk
Pupuskan segala mimpi yang telah terbentuk
Lelahnya hati dengan sayatan yang kau lukiskan membuatku terpuruk
Sudahlah...jangan lagi kau mengusikku jika hanya untuk membuat hati ini tertusuk.
Adakah kesadaran dalam hati?
Apakah kau tidak pernah merasakan perihnya tersakiti?
Apakah hadirku tak memiliki arti?
Kau seperti lupa diri meyiksa namun tak merasa menyakiti
Aku lelah
Aku jengah
Aku gundah
Kau singkirkan aku jauh dari pandangan mata,
Menutup rasa yang masih tersisa.
Kau tinggalkan aku demi dunia baru yang belum tentu memiliki rasa yang sama
Teganya kau tikam aku hingga tak berdaya
Darimu lah, misi bunuh diri kudapati
Tak ada lagi hati yang terpatri
Kini meski tanpa kerelaan, akan aku ikhlaskan kau berlabuh kelain sisi.
Berbahagialah.
Semoga langkahmu tak akan membunuh banyak cinta
Belajarlah untuk singgah lebih lama
Terima kasih ku ucapkan kepadamu yang pernah melukis cerita
Dan selamat tinggal padamu yang pernah singgah dalam jiwa
Tak kan pernah kulupa darimu goresan luka
hongkong, selasa 5 octo 2021
coretan cia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar