Rabu, 22 September 2021

Ampicilin

 (Anak Milineal Para Intelektual Bucin Liar Indonesia)
Karya : Muhammad Idsan - Peramu Diksi

Mereka bilang judul puisi ini panjang
Iya, tapi tidak sama panjang dengan masalah di Indonesia yang perlahan telanjang
Di sana-sini pengalihan isu-isu
Sekumpulan mahasiswa teriak asu-asu
Tetap saja pengendali setir tutup telinga soal itu Sambil minum susu
Hemmm... memang asu!

Di sisi lain
Ada tubuh tak tabah sering diserang galau bertubi-tubi tanpa dihalau
Babak belur berdrama dan bertelur atas nama bucin dengan sedikit micin
Inilah penyakit bernama bodoh
Dipelihara oleh makhluk-makhluk lemah penyembah luka
Siapa dia?
Ya tentu mereka yang baru pacaran
Sudah menjual obrolan yang diobral ratusan janji
Lebih baik jadi tukang jual tivi atau cidi
Laku sedikit tapi punya bukti

Ampicilin; Anak Milineal Para Intelektual Bucin Liar Indonesia
Anak SD pegangan tangan di pinggir jalan
Anak SMP tabung duit demi traktir kekasih di kantin sekolah Bu Susan
Anak SMA semakin melewati garis kehormatan
Anak kuliah mulai praktek di kos-kosan
Apa pesta selesai? Belum!
Pejabat jadi pelaku bejat bersama sekretaris di ruang privat
Pejabat jadi penjahat keluar-masuk bar menikmati selangkangan dan pantat

Dulu kita hafal arah mata angin; timur, tenggara, selatan, barat daya, barat, barat laut, utara dan timur laut
Anak sekarang hafal arah mata angan; tidur, tengkurap, selangkangan, tipu daya, tipu, tipu buntut, payudara dan tidur buntut
Memang tontonan dari dulu bicara susila dan dursila
Tapi sekarang makin parah merajalela
Karena banyak pejabat tidak hafal pancasila
Ada juga yang hafal tapi sayangnya pelaku asusila
Ditangkap katanya masuk penjara tapi tetap bisa keluar negeri duduk sila

Hukum di negeriku sedikit lucu, penuh drama dan rasanya sangkakala lebih dulu ditiup di Indonesia
Katanya semesta Ibu Pertiwi adalah surga
Tapi nyatanya jadi neraka karena ada penguasa
Berlagak bijak dari Maha Kuasa
Ujung-ujungnya rakyat jelata tetap sama saja
Berpuasa dari keadilan yang ada

Kalau dari kecil dididik sembrono dan tumbuh menjadi ababil
Maka jangan heran di balik pintu dia nonton video porno tayangan bugil
Ibunya tukang gunjing, bapaknya cari pelacur lampiaskan nafsu
Wajar saja anaknya dipanggil anjing! Asu!

Baru-baru ini ada lagi kasus yang konon tentang edukasi
Tapi ternyata hanya persoalan satu kata yang terlalu jauh dia pahami
Tahu-tahunya hanya cari sensasi basa-basi
Ujung-ujungnya bicara eksistensi dan promosi
Anjay! Apa selepas baca puisi ini aku juga masuk jeruji?
Bisa jadi

Kemarin masih hangat kasus penusukan pemuka agama
Bukan yang pertama tapi sudah berlangsung sejak lama
Sasaran para ulama
Dan muncul pertanyaan, ini ada apa ya?
Apakah ada isu baru yang telah disusun di balik jendela?
Kalau pejabat yang ditikam katanya teroris anti pancasila
Kalau ulama yang ditusuk katanya orang gila
Gila, gila...
La, la, la...
Sangat seram sekali Indonesia

Batam, 14 September 2020

Tidak ada komentar:

RAMADHAN TANPA IBU

Aku memendamnya hingga hari-hari penuh berkah datang Semesta seakan berbisik agar hati menjadi lebih lapang Mencium aroma kurma yang menggod...