Kamis, 22 Agustus 2024

Apa kamu bahagia..?

 

Suci Indriyani



Aku penasaran untukmu yang meninggalkan. 

Apa kamu bahagia sekarang...? 

Apakah menyenangkan menusukan pisau luka di hatiku sedalam itu...? 

Tak adakah sedikitpun rasa bersalah yang berputar putar di kepalamu...? 

Mungkin adanya aku tak pernah benar benar penting untukmu. 

Sampai kamu tega semena mena bermain rasa. 


Aku terus bertanya tanya dalam diamku, 

Apa salahku..? 

Perasaan tak terima yang menggebu mulai terasa menggangu dan menyurutkan upayaku untuk merelakanmu. 

Masih ada bagian dalam diriku yang tak bisa begitu saja melihatmu memalingkan muka. 


Setelah pergimu,  

Tak pernahkah sedetikpun kau merindukanku..? 

Semudah itukah semua itu hilang dari hatimu..?

Kamu yang memulainya.. 

Kamu yang menguatkan raguku untuk berani menggenggam cinta. 

Lantas.., kenapa kamu sendiri yang mengakhirinya dengan luka. 


Aku masih ingat suara bergetar dari bibirmu saat kamu bertanya " maukah aku jadi kekasihmu..? ". 

Aku masih ingat perasaan berbunga yang meletup-letup di dadaku. 

Saat mendengarmu menyatakan cinta, pandanganmu begitu menyentuh hatiku.

Penuh rasa sayang yang tak terbilang. 

Tapi sekarang... 

Hanya tersisa kenangan yang menyesakan. 


Aku memang tegar, tapi perihal melupakan butuh proses yang panjang kan...? 

Bahkan kurasa, aku tidak akan pernah bisa lupa drama yang kamu lakukan untuk membunuh cinta kita. 

Kamu begitu sempurna menyusun setiap adegannya. 

Aku benar benar kau buat tak sadar dan terbawa arus deras untuk bertahan begitu keras, justru berujung untuk lepas. 

Seharusnya kamu katakan saja jika sudah tak lagi berdebar saat jumpa. 

Kamu katakan saja jika jauh dariku tak lagi menumbuhkan rindu. 

Setidaknya aku tau harus ku apakan perasaanku. 

Aku bisa mempersiapan upacara perpisahan untukmu, bukan pergi tanpa permisi seperti ini. 

Rasa nyeri tak bertepi terpaksa ku cicipi seorang diri. 


Selamat,  

kamu berhasil mempermainkanku.

Semoga kamu bahagia dengan perjalanan barumu tanpa aku. 

Kelak.. akan datang bingkisan dariku untukmu. 

Saat aku berkilau dan kamu di kepung penyesalan. 

Barangkali saat itulah rasa sakit hati ini terbayarkan. 

Tuntas menghapus bekas luka menganga yang kau ciptakan. 

Mungkin berpisah denganku memang keputusan terbaikmu dan aku yang seharusnya menata hati untuk pamit pergi dari kisah rumit ini. 

Jika suatu hari nanti takdir membawa langkah kita pada satu tempat yang sama., Maaf, jika aku tak lagi sama. 

Aku akan lebih baik jika saling berpura pura tak pernah jumpa sebelumnya. 

Kamu tau kenapa..? 

Aku bukannya masih cinta. 

Bukan begitu.. 

Kamu jangan salah sangka. 

Aku hanya ingin menegaskan padamu, seseorang yang pernah kamu lukai tak lagi bisa kau permainkan sesuka hati.

Tidak ada komentar:

RAMADHAN TANPA IBU

Aku memendamnya hingga hari-hari penuh berkah datang Semesta seakan berbisik agar hati menjadi lebih lapang Mencium aroma kurma yang menggod...