Selasa, 15 Oktober 2024

Didepan sancho panza yang lelah

 

(2009) 

oleh: Gunawan muhammad


Di depan Sancho Panza yang lelah,

seorang perempuan bercerita tentang sajak

yang disisipkan ke dalam hujan

yang tak tidur.


Tentu saja Sancho tak mengerti

bagaimana sajak disisipkan

ke dalam hujan, tapi ia mengerti

cinta yang sungguh. Dipegangnya tangan

perempuan itu dan berkata, ”Jangan cemas.”


Memang sebenarnya perempuan itu cemas:

Seseorang mencintainya dan ia tak tahu

untuk apa. Ia tak tahu kenapa sajak-sajak tetap terbuang

dan laki-laki itu tetap menuliskannya, sementara hujan

hanya datang kadang-kadang. Malah guruh lebih sering,

seperti brisik kereta langit yang menenggelamkan

antusiasme yang tak lazim. Atau logat yang asing.

Atau angan-angan yang memabukkan.


”Semua ini jadi lucu,” kata perempuan itu.

Dan Sancho pun sedih. Sebab ia pernah melihat seorang kurus,

tua dan majenun, yang memungut sajak yang lumat

dalam hujan, yang percaya telah mendengar sedu-sedan

dan cinta dari cuaca, meskipun yang ia dengar

adalah sesuatu yang panjang dan sabar

seperti gerimis.

Tidak ada komentar:

RAMADHAN TANPA IBU

Aku memendamnya hingga hari-hari penuh berkah datang Semesta seakan berbisik agar hati menjadi lebih lapang Mencium aroma kurma yang menggod...