Selasa, 15 Oktober 2024

Topeng


Oleh: Arief Siddiq Razaan 




ia berulangkali tersenyum


demi menghargai 


para pahlawan kesiangan


yang lahir dari kepala batu


sejak hati nurani jadi babi-babi


yang dinisbahkan atas nama saudara


serahim walau tak senasib sepenanggungan




berulangkali ia mengelus dadanya


setelah kehilangan muka


yang digadaikan saudara-saudaranya


di ladang yang ditanami rasa hormat palsu


sebab harta ialah berhala


yang mengabulkan keinginan pendosa


untuk memutuskan tali silaturahmi




di pesakitan hati yang memar


ia berkabar pada sekawanan gagak


yang mematuk jasad keharmonisan


setelah membusuk di rawa ketidakpedulian


sebab ingatan masa lalu


hanyalah dongeng yang menumbuhkan luka


melahirkan dogma karma paling mahaduka




monyet, anjing, taik kucing!


sampai kapan bibir dipaksa tertawa


seolah baik-baik saja


padahal nyatanya dadanya dipenuhi elegi


yang mendarah saban hari


sebagai pembangkitan nestapa


yang memenuhi air mata


dengan cerita rintih tak habis-habisnya




selamat tinggal


biarkan ia mati sebagai keterasingan


setelah topeng ditanggalkan


di jalan-jalan; trotoar; jembatan; juga doa


yang entah sampai kepada Tuhan


atau tersangkut pada setan-setan


yang memusnahkan rasa ikhlas


dari derita yang semestinya dihapus waktu


pengampunan dan rasa maaf




2024

Tidak ada komentar:

RAMADHAN TANPA IBU

Aku memendamnya hingga hari-hari penuh berkah datang Semesta seakan berbisik agar hati menjadi lebih lapang Mencium aroma kurma yang menggod...