Aku mengeja dalam harfiah alif,
rasa syukur mensujudkan kening tentang hamba,
menemui kalam dalam rangkaian huruf-huruf mutlak, kutimang kemurnian suci laksana embun,
semilir pagi adalah ibu ketika simpuh.
Tatkala debar menyerukan tentang restu mengimpi,
airmata bersekutu di antara langit,
nun rembulan bercahaya,
tika surya hangatnya menyerta.
Kata hati meruah perihal semestinya kupahami,
bagai ranting mencurah dahan, menadah segala rasa hendak diserap,
kata pohon sedari akar sejak berdiri di atas bumi, begitulah semesta berlaku.
Adakalanya bunga menjadi buah bibir
Walau tak mampu harumkan taman,
Indahnya tetap terpajang di sebuah nama tertulis,
tak satu pun senyum menyapa melainkan sebatas mata tanpa bicara, mudah melepas jenuh begitu saja.
Sebab ia tak mendalami di mana nikmatnya anugrah tersembunyi,
berbisiklah dari segala arah memastikan seluk beluknya asal. Kurasa sepuluh jemari telah berkata dalam isyarat,
lima serangkai terbentang arah kembali bersua,
saling melengkapi kekurangan,
tanpa harus mencela satu sama lainnya,
karena serupa meski beda derajat.
Aku tak pernah menjadi telunjuk ketika jemari kecil dalam naungan ibu jari,
namun berusaha agar tetap manis sebagai kekasih bersama mereka,
maka cukuplah kupintakan welas menyertai langkah cita di mana pun kelak aku berada.
Sejatiku tak terpisahkan darimu walau badai gelombang bertubi mengombang ambing hidupku,
ia tetaplah ujungku yang telah mengalirkan nafas sedalam batin,
mengungkap darah pada rusuk.
Hingga sebagian dagingmu terkuras membentuk sebuah senyum melebihi indahnya segala selainku,
melupakan bunga-bunga sesaat pudar seperti rekayasa mata dan rasa,
jauh dari agungnya harta melimpah,
akhirnya alif kurangkai dalam kalimat Hamdalah, tersenyumlah selalu dalam semoga,
selalu terukir saat-saat tasbih dan doaku,
Ibu...
Topan Arif
Tulungagung, 7 Januari 2024
Tidak ada komentar:
Posting Komentar