Senin, 04 Agustus 2025

OPINI PUBLIK

 

karya, Norman Adi Satria



Konco sebangsaku makin rajin belajar:

mendengarkan segala lisan

membaca segala rupa tulisan.


Pengetahuan kini makin dibutuhkan

demi meramu status sosial media

biar tak terkesan goblok atau kurang otaknya.


Konco sebangsaku makin hari makin menuju puncak kekritisan

matanya makin awas pada gerak gerik dan keadaan.

Dengan bekal pengetahuan yang sudah dipelajari

mulailah mereka bergunjing dalam opini.


Opini kini makin dibutuhkan

karena konon katanya hukum di negeri kita

bergerak sesuai dengan opini publik:

yang benar bisa jadi terduga bersalah

bila mayoritas opini publik bilang kayaknya salah

jua sebaliknya.


Konco sebangsaku, publik yang mulai gemar beropini

nyaris tiap hari dicekoki kabar-kabar dengki

dan tutorial caki maki

berlabel pengetahuan dan informasi.


Kasihan, sebenarnya mereka sungguh-sungguh ingin belajar.

Bukankah belajar seharusnya menjadikan kita pinter?

Kok malah ujungnya jadi Hater?

Atau barangkali Hater adalah selangkah menuju pinter ?

Atau jangan-jangan Hater merupakan puncak dari pinter?

Yang jelas, nyaris tiada yang merasa diri masih goblok.


Tuh, opininya langsung heboh jadi berita

dengan judul cetar membahana:

RAKYAT MURKA! SI ANU MESTI DIADILI SEGERA!

Padahal sejam setelahnya mereka sudah ketawa-ketiwi

stalking-stalking mantan, siapa tahu pengen balikan lagi.

Tak sadar opininya sudah dimanfaatkan untuk memuluskan suatu aksi.


Bekasi, 17 Oktober 2016

Tidak ada komentar:

RAMADHAN TANPA IBU

Aku memendamnya hingga hari-hari penuh berkah datang Semesta seakan berbisik agar hati menjadi lebih lapang Mencium aroma kurma yang menggod...