Oleh : Mata Langit
Aku pernah menjadi rumah bagi cintamu,
lantai dadaku terbuat dari harapan,
atap ragaku berdiri karena doa-doa,
namun kini semuanya roboh,
kau pergi membawa kunci pintu,
dan aku tinggal bersama sunyi yang menggigil.
Jantungku bukan lagi jantung,
melainkan pintu kosong yang diketuk angin,
setiap detak hanyalah gema hampa,
seperti langkah di koridor yang ditinggalkan.
Aku mencoba tersenyum di wajah orang-orang,
padahal bibirku retak, hatiku patah tanpa sisa.
Kesedihan ini tak lagi air mata,
ia berubah jadi sungai asin yang menenggelamkan,
setiap malam aku berenang di dalamnya,
tanpa pelampung, tanpa daratan.
Aku tenggelam seribu kali,
dan setiap kali bangkit, kutemui arus yang sama.
Aku pernah percaya cinta itu doa,
tapi kini ia hanyalah kutukan,
mantra yang memanggil hantu di kepalaku.
Kenanganmu menari bagai bayangan lilin,
setiap kedipan mataku menyalakan wajahmu,
setiap tarikan napas menghadirkan suaramu.
Tidur bagiku hanyalah siksaan baru,
bantal menjadi saksi air mata,
selimut hanyalah kain kafan sementara.
Aku berbaring bukan untuk istirahat,
tapi untuk menyaksikan ribuan pisau
menari di dadaku tanpa henti.
Pagi tak lagi indah,
ia hanya kalender yang mengulang kepedihan,
matahari bagiku adalah penghinaan,
sebab ia tetap terbit meski hatiku sudah mati.
Orang-orang berkata aku masih hidup,
padahal aku hanya bangkai yang bisa berjalan.
Aku marah pada dunia,
marah pada udara yang tetap kubiarkan masuk,
marah pada nadiku yang tak mau berhenti berdenyut.
Aku marah pada cermin
yang mengembalikan wajah asing ini,
wajah pecundang yang gagal menjaga cintanya.
Aku benci jalan-jalan yang pernah kita lalui,
bangku yang pernah kita duduki,
kota yang merekam langkah kita.
Semuanya kini menjelma penjara,
setiap sudut memanggil namamu,
setiap dinding mengulang perpisahan itu.
Aku menuduh diriku sendiri,
mengadili tubuhku yang rapuh,
menggantung namaku di tiang penghakiman.
Aku berbisik pada bayangan di cermin:
“Kau pantas ditinggalkan,
kau pantas sendiri, selamanya sendiri.”
Cinta bagiku kini adalah burung patah sayap,
ia terjatuh, meronta, lalu mati di pelukanku.
Kepercayaan hancur seperti kaca dilempar batu,
setiap serpihnya melukai tanganku sendiri.
Aku mencintaimu dengan seluruh tubuhku,
dan kini tubuhku pun ikut mati bersamamu.
Aku menutup hatiku, bukan karena tak ingin,
tapi karena takut luka ini berdarah lagi.
Gelap jadi tempatku bersembunyi,
sunyi jadi bahasa yang paling jujur.
Aku lebih memilih sepi yang melahap,
daripada cahaya yang menusuk.
Namun entah kenapa,
dari reruntuhan ini kadang muncul sebutir cahaya.
Kecil, nyaris tak terlihat,
tapi ia membuatku bertanya:
“Apakah mungkin aku sembuh?
Atau aku hanya menunggu mati perlahan?”
Kediri, 29 Agustus 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar