Oleh : Mata Langit
Di jalan raya yang berdebu,
terdengar riuh suara rakyat,
bukan sekadar teriakan,
melainkan nyala yang menembus langit kota.
Bendera-bendera terangkat,
seperti luka yang enggan ditutup kain putih,
seperti dada yang menahan sesak,
karena harga hidup melambung tanpa tali penyangga.
Mereka datang—
mahasiswa, buruh, ojol, guru,
ibu-ibu yang menimang anak sambil menanti harga beras yang jatuh,
dan ayah-ayah yang resah di depan pintu pabrik,
karena daftar nama PHK panjang seperti garis nasib.
Tujuh belas suara dipancang
seperti tiang-tiang darurat di jalan revolusi:
tarik serdadu dari aspal kota,
hentikan belenggu di pergelangan tangan demonstran,
buka pintu penjara bagi yang bersuara,
jangan biarkan wajah Affan dan Umar
terhapus dari catatan bangsa.
Tujuh belas jerit ditujukan ke kursi empuk,
yang di dalamnya para wakil rakyat duduk sambil menimbang tunjangan.
Beku, kata rakyat.
Tunda, kata rakyat.
Buka semua lembar anggaran,
biarkan transparansi menelanjangi kemewahan.
Badan kehormatan, bangunlah,
periksa para pelaku yang menjual amanah
di meja rapat dan lorong sunyi kekuasaan.
Partai-partai dituding,
kader yang berdiri di mimbar palsu dituntut mundur,
karena rakyat tak lagi sudi
mendengar pidato yang hambar seperti abu.
“Bersamalah dengan kami,”
kata mahasiswa yang bersimbah keringat,
“hadirlah dalam ruang dialog,
bukan hanya di baliho dan spanduk murahan.”
Polisi, polisi—
di jalan engkau bagai bayangan panjang,
tongkatmu seperti malam yang jatuh terlalu dini.
Hentikan pukulmu,
karena tubuh rakyat bukan medan latih.
Tangkap mereka yang merusak sumpah,
yang mencoreng seragam dengan darah saudaranya sendiri.
Dan TNI—
tentara, kembalilah ke barak,
tanah ini bukan lagi ladang perang,
tetapi halaman rumah yang ingin damai.
Lepaskan peran yang bukan milikmu,
biarkan sipil berjalan dengan kaki sendiri.
Kementerian ekonomi,
dengar deru perut yang kosong,
dengar jerit buruh yang ditelan mesin,
dengar gojek yang memacu roda
sementara tarif tak kunjung menebus bensin.
Bayarlah kerja dengan layak,
jangan biarkan guru dan tenaga kesehatan
menjadi lilin yang habis terbakar tanpa cahaya kembali.
Namun, suara itu tak hanya singkat.
Ada delapan nyala jauh di horizon,
jangka panjang seperti janji reformasi
yang dulu pernah dicatat di halaman konstitusi.
Bersihkan DPR dari racun korupsi,
hapus privilese yang menjelma candu.
Reformasi partai,
biar oposisi bukan sekadar sandiwara
tetapi napas demokrasi yang sejati.
Rakyat meminta pajak yang adil,
bukan cambuk bagi yang miskin,
melainkan jaring yang menangkap
harta para penguasa yang menumpuk di laci gelap.
Sahkan undang-undang perampasan,
biar tikus kantor kehilangan sarang,
biar negeri ini bernapas lebih lapang.
Polisi harus direformasi,
bukan wajah seram yang menakutkan anak,
melainkan pelindung yang tegas dan manusiawi.
Tentara harus kembali ke barak,
undang-undang diperbaiki,
agar bayonet tidak lagi menodai ruang sipil.
Perkuat Komnas HAM,
jadikan Ombudsman bukan sekadar nama,
tetapi mata yang melihat tajam
dan tangan yang berani menunjuk salah.
Tinjau ulang hukum ekonomi,
batalkan pasal-pasal yang mencabut akar rakyat,
periksa proyek yang menebang hutan
dan meluluhlantakkan sawah.
Semua itu—
terkumpul dalam tujuh belas tuntutan di jalan dan delapan nyala di cakrawala,
seperti tanggal di bulan kemerdekaan,
seperti janji yang dulu diteriakkan di bawah bendera merah-putih.
Namun, suara rakyat selalu diuji:
ada janji yang hanya sekadar tepuk tangan di rapat,
ada keputusan yang lahir setengah hati,
ada korban yang ditutup kabar.
Tetapi ingatlah,
di setiap luka yang ditorehkan pentungan,
lahir seribu suara baru
yang berlipat ganda dalam dada bangsa.
Rakyat bukan sekadar menuntut,
rakyat adalah matahari yang sabar,
yang akan terus terbit meski langit diliputi asap gas air mata.
Dan di bawah teriknya,
tujuh belas tuntutan di jalan dan delapan nyala di cakrawala
akan tetap bergaung,
hingga reformasi bukan sekadar kata,
melainkan rumah yang benar-benar berdiri
untuk semua penghuni tanah air.
Kediri, 5 September 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar