Minggu, 23 November 2025

Ingatan yang Mengapung di Senja September


Oleh : Mata Langit

Ada yang datang
tanpa aba-aba,
diam seperti fajar yang merayap
di tepi langit subuh yang malu-malu,
menyentuh dada dengan cahaya pucat
hingga jantung berdetak
lebih cepat dari waktu.

Ia tak mengetuk pintu,
hanya hadir sebagai bayang tipis
yang menapaki sela udara,
seperti desir angin yang melintas di celah dedaunan,
seperti embun yang tiba-tiba menitik
pada kelopak bunga yang tertidur.

“Ah… mengapa dadaku berlari begitu jauh,
padahal ia hanya melintas tanpa suara?
Bukankah aku pernah berjanji menjaga sunyi?
Namun satu bayang sanggup meruntuhkan
tenang yang sekian lama kujaga.”

Bukan gemuruh yang megah,
ia lahir dari getar kecil yang nyaris tak terlihat:
dari senyum gugup di sudut bibir,
dari tatapan yang singkat
namun menggema bagai denting senja di tepi laut,
dari sapaan sederhana
yang menyusup ke telinga dan tinggal
lebih lama dari bayang sore.

Kadang ia hadir dalam lirih hujan sore,
kadang hanya lewat sebagai gema langkah di koridor sekolah,
atau sebagai wangi samar yang terbawa angin
dari rerumputan yang basah embun.

“Aku tak mengerti…
bagaimana mungkin senyum sesederhana itu
menggetarkan benteng yang kubangun di dada?
Mungkin karena hati selalu lemah
di hadapan ketulusan.”

Lama aku mencoba menyangkalnya,
menyibukkan diri dengan buku dan baris-baris catatan,
namun di setiap halaman yang kubuka
ada satu huruf yang seolah menatap balik,
ada tanda baca yang mengingatkan pada alisnya,
ada jeda yang menyerupai cara ia menyebut namaku.

Namun kami tahu,
tak semua musim
diciptakan untuk menetap.
Ia datang seperti semi yang singgah,
membawa gugusan bunga liar
dan wangi tanah basah,
lalu pergi ketika angin kemarau
mencabut akar harap dari tanah dada.

“Jika saja aku tahu ia hanya singgah,
tentu kupagari hatiku sejak mula.
Namun siapa yang bisa menahan bunga
untuk mekar saat musim datang?
Siapa yang bisa mengurung burung
agar tak terbang saat langit memanggilnya pulang?”

Malam-malam sesudahnya
menjadi ladang sunyi yang dipenuhi gema namanya.
Bintang-bintang menggigil di atas atap
dan bulan seolah memahami rahasia yang kusembunyikan.
Aku berjalan di jalan kota yang basah hujan
dan bayangannya melintas di setiap jendela toko
yang masih menyimpan sisa cahaya lampu.

Meski kini ia jauh,
ia tinggal sebagai denyut kecil
di sudut yang tak terjangkau waktu,
menjadi kenangan yang tidak meminta pulang
namun senantiasa hadir
ketika hujan pertama musim ini
mengetuk jendela sore.

“Ah, hujan selalu membawa langkahnya pulang,
meski hanya sebagai bayang di tepi ingatan.
Tetesnya membangunkan rindu yang diam,
dan membuka pintu sunyi yang kukira telah tertutup.”

Aku telah dewasa,
telah mencintai lagi,
namun setiap kali menoleh pada bayang itu
ada senyum yang singgah
tanpa kusadari—
bukan duka, bukan luka,
melainkan cahaya lembut
yang dulu menuntunku mengenal
bahwa mencintai tidak selalu berarti memiliki.

Kadang aku membayangkan
ia berjalan di tepi senja kota yang asing,
mungkin menatap langit yang sama
dan diam-diam menyapa musim yang pernah kami bagi.
Barangkali ia tak lagi ingat,
namun aku tahu,
kehadirannya pernah menjadi sungai kecil
yang memberi minum padang hatiku yang kering.

Kini, saat senja membelai wajah bumi
dengan cahaya yang merona lembut,
aku tahu—
ia bukanlah luka yang ingin kulupa,
melainkan musim semi yang pernah mekar
di ladang hatiku,
memberi warna pada tanah tandus
yang dulu tak mengenal debar.

“Terima kasih…
karena pernah singgah sebagai musim terindah
di halaman hidupku.
Aku tidak lagi merindukanmu untuk kembali,
cukup merindukan keindahan yang pernah kau titipkan di dadaku.”

Dan ketika malam tiba,
dengan bintang-bintang yang menulis kisah di langit,
aku berdoa diam-diam:
semoga ia bahagia,
di mana pun langkahnya kini berpijak,
seperti aku yang diam-diam bahagia
karena pernah mengenal musim yang datang
tanpa aba-aba—
dan mengajarkanku arti debar pertama.

Kediri, 10 September 2025

Tidak ada komentar:

RAMADHAN TANPA IBU

Aku memendamnya hingga hari-hari penuh berkah datang Semesta seakan berbisik agar hati menjadi lebih lapang Mencium aroma kurma yang menggod...