Oleh : Mata Langit
Di zaman ketika kilau dompet
dipuja seperti matahari palsu,
kita berjalan dalam bayang-bayang
yang diciptakan angka-angka di layar.
Cahaya semu itu memanjang,
menutupi tanah tempat jejak manusia
sebenarnya ditanam.
Di balik rerumputan pagi,
ada tetes peluh tukang kayu
yang menetes seperti embun terakhir.
Ia meraut dunia dari serat pohon,
seolah memahat ingatan bumi
agar tak mudah dilupakan.
Sementara petani menunggu fajar
sebagaimana seorang penjaga menunggu kabar,
menggenggam gelap
sampai benih akhirnya menghela napas.
Harga-harga di pasar
berdansa seperti daun kering
yang dipermainkan angin musiman.
Hari ini melambung,
besok rebah tanpa suara.
Namun keringat,
yang melekat pada punggung kelelahan,
adalah batu karang yang tak tunduk
pada gelombang apa pun.
Bangunan-bangunan kaca
yang kita sebut startup, unicorn, atau keajaiban,
hanya menara ilusi
yang ditopang oleh tangan-tangan
yang tidak terlihat.
Di balik cahaya layar ponsel,
ada bayangan punggung bungkuk
yang menahan beban agar tak runtuh.
Namun bayangan itu jarang disebut,
seperti akar pohon
yang tak pernah masuk dalam lukisan
meski menopang seluruh rimbun.
Kekayaan dibagi seolah adil—
tanah, modal, dan tenaga kerja
duduk bersama di meja perjamuan.
Namun hanya satu kursi
yang berisi sesuatu yang hidup:
manusia yang bekerja.
Sisanya hanyalah benda sunyi
yang menunggu disentuh.
Dan dalam ketegangan antara gaji, sewa,
dan keuntungan yang berlari tanpa lelah,
keringat manusia menjadi jembatan
yang terus diinjak
tanpa pernah dilihat.
Di kota-kota yang penuh layar terang,
kita memuja angka
seperti jemaat yang hilang arah.
Padahal para pekerja yang tersembunyi
mungkin sedang tersenyum tipis—
senyum yang pahit seperti kopi hitam—
karena mereka tahu
bahwa nilai tidak pernah lahir
dari gemerlap cahaya,
melainkan dari gelap yang bekerja diam-diam.
Pelajaran ini sederhana
namun tajam seperti duri mawar:
hargailah keringat,
bukan kilau dompet.
Dompet dapat mengembang
karena helah angin;
pasar dapat runtuh
karena gumaman kecil waktu.
Tetapi kerja manusia
adalah batu nisan kebenaran—
tak dapat dipindahkan,
tak dapat disihir oleh angka.
Kemakmuran sejati
bukan tentang siapa yang duduk paling tinggi,
melainkan siapa yang menunduk
untuk melihat dari mana semuanya berasal.
Maka jangan lagi terpukau oleh layar kosong.
Selamilah retakan kecil
di telapak tangan pekerja;
di sanalah dunia disusun ulang
tanpa tepuk tangan,
tanpa sorotan,
namun dengan kejujuran
yang tidak bisa ditipu waktu.
Kediri, 25 September 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar