Minggu, 13 September 2020

Salam Jari Tertinggi!


Singa menganga tunjuk taring dengan nyaring

Meraung-raung dalam ruang-ruang tak bergeming

Lantas, untuk apa jadi raja dalam rimba?

Kalau budakmu sendiri kau sembah sebagai hamba

 

Jangan tanya kenapa diksiku terus berani beraksi

Karena kata sembunyi dari bunyi-bunyi adalah permainan yang paling basa-basi

Kau bicara tentang negeri ini

Tapi kau sendiri tak mengerti apa yang terjadi

 

Benar-benar konyol!

Bermain-main dengan kata-kata memang permainanku

Aku bukan ahli tapi aku tahu

Bahwasanya bahas-bahas bahasa adalah asa-asa untuk rasa-rasa bukan teriak asu-asu atau berkusu-kusu isu-isu yang nafsu kau jadikan susu, kan asu!

 

Di atas langit masih ada langit

Maka jangan terus-menerus berjinjit

Sombong itu penyakit, jangan sampai terjangkit

Bersusah payah kumat-kamit dengan kalimat paling pahit agar dibilang menggigit sakit, membunuh kenyat-kenyit dengan ramu rima rumit, tapi hipokrit, kan asal jerit!

 

Salam jari tertinggi tanpa hormat

Puisi keramat ini untuk mereka yang melempar sayap-sayap kalimat sayat-sayat tapi mau dibilang hebat, sampai tak ada obat, sini mendekat, lebih merapat tanpa sekat-sekat, satu kata “keparat!”

Kau rendahkan karya-karya orang lain

Seakan-akan karyamu lah yang maha

Sementara mahakarya tak berasal dari sikap seperti itu!

Saling menghargai di atas kertas serta mulut mengulas cerdas

Itulah etika paling berkelas!

 

Salam jari tertinggi, peramu diksi.

Bone, 24 Agustus 2019, 22.22 WITA

Tidak ada komentar:

RAMADHAN TANPA IBU

Aku memendamnya hingga hari-hari penuh berkah datang Semesta seakan berbisik agar hati menjadi lebih lapang Mencium aroma kurma yang menggod...