Kamis, 04 Februari 2021

PENARI TAMAN DI WAJAH MALAM

**

Semampai syahdu gerak dan suara itu meronggeng ..

Berribu bahasa indah harapkan simpati dengan lukiskan kisah menyayat hati 
Namun itu halu di mata yang tau 
Tebarkan  bunga-bunga kepada kumbang-kumbang 
Nadakan kisah sumbang 
Tari kan gerak serapah menjagal kupu-kupu 
Demi sebuah empati agar tak nampak menipu 

Tragis.. 
Begitu memilukan ..
Bak penari ronggeng bermata satu jajakan tarian di setiap taman bunga,beriring nyanyian kelabu yang tak laku-laku buat si penjaga kalbu

Selalu blusak blusuk kasak kusuk tawarkan wewangi bunga di balik bau busuk hanya untuk menusuk adalah kepuasan sebagai pengobat,katanya..
Hmm.. Adalah bpjs nya jiwa yang jauh dari jaringan kebenaran

Entah, sampe kapan sadar dan menyadari kesalahan diri sendiri 
Yang senantiasa memandang kebenaran hanya dengan satu mata.. Mendengar hanya dengan satu telinga,bahwa kau akui kebenaran itu tapi tertolak oleh mata dan telinga lainnya yang kau buta tulikan

Entah ...sampe kapan memahami kenyataan hidup selayaknya sang dewi merias hati? 
Bukan dengan merangkai kata ciptakan rujukan agar dapat empati bersama otak gatal di atas bantal 
Pada peraduan yang seharusnya indah berhias bunga nirwana 
Entahlah, 
Entah siapa sebenarnya dirimu..

Bukankah taman itu masih berpayung pada langit yang sama
Maasih biru,meski awan hitam kadang hadir beriring.. bergantian dengan gayanya 
Yang selayaknya semua itu mampu mendewasakan jiwa tuk lebih bisa mengenal diri sendiri 
Hingga terbukanya tirai mata hati tuk memandang dan menikmati indah sandiwara dunia 

Masih kan..?
Cakrawala di taman itu tampakkan pesonanya ?
Pesankan diri untuk berharap gapai damainya senja tuk menyambut malam ,
Agar tidur itu nyenyak dalam impian swargaloka, 
Agar fajar senantiasa singsingkan diri tuk menyambut pagi ,
Agar diri terhangatkan pancar mentari hati di setiap hari-hari

Ach... Sudahlah 
Semua ini hanya bilur-bilur dari sajak-sajak yang kau wartakan di setiap taman-taman  malam mu 
Bersama kumbang-kumbang jua kupu-kupu di taman itu
Yang mungkin tersipu dan tersapu tipuan bidadari berselendang semu yang lihai meramu 

Sudahilah ..

Dan, 
Biarkan kumbang-kumbang.. Merta kupu-kupu lainnya terbang menari perankan takdirnya 
Karena mereka berhak ciptakan kebahagiaannya sendiri
Jangan kau usik mereka, karena itu akan membuat rasa mu mati 

Sekali lagi, 
Sadarilah.. 
Sudahilah..

Mari bersolek pada cermin diri sendiri 
Di tengah taman yang hampir usang dan sia -sia
Mari.. 
Mendewasakan diri ciptakan kecantikan dan indah taman itu dari Yang sejati 

Mari.. 
Akhiri semua dari kisah yang sesungguhnya sudah berakhir 
_______________________
*JITAKSU*
Makam rasa, 08112020

Tidak ada komentar:

RAMADHAN TANPA IBU

Aku memendamnya hingga hari-hari penuh berkah datang Semesta seakan berbisik agar hati menjadi lebih lapang Mencium aroma kurma yang menggod...