Kediri 23 Juli 2020 / 17:36 WIB
Oleh: Mata Lamgit
Dari dinding-dinding puisi sampah
Tercipta daur ulang serat-serat asa
Yang menampar keras relung nadi
Bahwasanya jangan mengibarkan bendera putih
Dalam realita bait-bait pembangkangan
Kini saatnya bangkit siapkan amunisi
Pasang siaga mata-mata batin
Untuk bersuara lantang pada solidaritas
Di mana penghuninya tidur dalam selimut kemunafikan
Hei engkau penjahat diksi
Jangan lupa bangun menghitung dosa
Terkait sisi khianatmu yang mengembang
Pada mulut manismu gula-gula kopi
Yang menjadi ampas ketika di puji
Haa.. haa.. haa..
Terkutuk..
Hei penghuni durjana
Jangan lupa cuci otak nuranimu
Terkait tidurmu yang menghitung pujian
Perancang ayat-ayat penganut setan
Yang sigap mengamputasi kaki-kaki sesama
Hei plagiator
Jangan lupa kode coretan
Agar kau tak tersesat
Menulis narasi pencitraan dan narasi realita
Hei komunitas tak berfaedah
Jangan lupa membaca tulisan
Agar kau tetap kokoh dalam bersuara
Dan tidak menjadi kader pengecut
Dalam menghadapi senioritas yang lupa diri
Dan kini puisi-puisi pembangkangan tetap abadi
Yang takkan bersembunyi dari permusuhan
Sebelum kata menang itu ada
Dalam rumah tinta kertas pembangkang
Rumah Tinta Pemulung Kertas
Taman Puisi Nusantara
Kediri
Tidak ada komentar:
Posting Komentar