Kediri 23 Juli 2020 / 20:44 WIB
Oleh: Mata Langit
Renjanaku
Marilah kita menjadi sepasang bangsat di malam jum'at
Yang katanya orang adalah waktu tepat pertumpahan libido
Jangan pernah timbul keresahan akan dosa
Sebab di jagat maya banyak bajingan yang mengaku malaikat
Dalam rupa-rupa elit berlambang pakar
Tetapi mengapa ketika aku telah siap menggarapmu
Kau malah berubah menjadi patung
Yang diam seribu teka-teki
Sehingga membuat gairahku tumpul menepa
Renjanaku
Apakah kau masih menyimpan amarah
Perihal aku tak mengajakmu lagi
Turun di lembah-lembah minoritas
Untuk membacakan puisi-puisi perlawanan
Ya
Ternyata tebakanku tepat
Kau memupuk benang rajuk akan hal itu dari mulutmu
Namun, tak perlu kau mempersoalkan itu
Sebab aku melakukan itu demi keselamatan dirimu
Renjanaku
Akhirilah bibir cemberutmu itu
Bukannya kau telah mendengar penjelasanku
Sehingga jangan kau membuatku menunda percintaan kita
Karena aku ingin kau memberikan selangkangmu secara sukarela
Tidak seperti lokalisasi plagiator yang merancang memulung syair-syair indah
Tanpa sepeserpun melibatkan orang sekelilingnya
Kenapa kau diam renjanaku
Angkat pembicaraan
Jangan kau membuatku membuang-buang waktu
Menunggu perasaanmu membaik untuk kita memagut lidah
Ataukah kau ingin aku menjadi seorang brengsek
Seperti orang-orang yang mengaku puitis
Tetapi menjadi penjilat tulen di ruang-ruang bau kencur
Sekali lagi kutanyakan padamu renjanaku
Apakah kau mau membuang sia-sia malam jum'at ini
Sebab cuma ini waktu yang kita punya
Perihal, kita telah menjadi tawanan pandemik
Di mana kita menjadi plonco dibatasi ruang gerak-gerik
Dan akhirnya kau pun menjadi penurut
Karena mungkin di dunia ini teramat kejam
Yang memberlakukan hukum-hukum alam
Bahwa perempuan harus tunduk ia dan ia pada omongan laki-laki
Haa.. haa.. haa..
Namun
Jangan kau kuatir sayang aku tidak sebajingan itu
Sebab aku ingin persetubuhan kita terjalin suka sama suka
Bukan seperti sinetron yang lebih mengejar rating dari pada kualitas
Dan rupanya telah ku pastikan moodmu telah membaik tanpa kepura-puraan media bookingan
Maka marilah kita jangan menunda untuk menjadi sepasang telanjang
Untuk mengeluarkan bulir keringat kita yang kehausan
Ah ah ah ah ah ah
Rupanya air maniku lebih cepat keluar dari sebelumnya
Renjaniku
Kini aku telah mencapai klimaks
Maafkan aku yang mengecewakamu
Karena tak mampu membuatmu basah seperti sebelumnya
Tapi jangan pernah risau
Sebab aku akan kembali datang menyetubuhimu
Setelah kata menang itu ada dalam perlawananku
Ritme Dosa Cinta Asmara
Senandung Belaian Klimaks
Kediri 23-07-20
Tidak ada komentar:
Posting Komentar