Kamis, 04 Februari 2021

BILAKAH KEHIDUPAN SEBATAS PUISI

**


ia mengalir dari hulu imaji 
Tanpa indahkan hati 
Lahirkan berragam diksi tanpa kaki 
Hingga samarkan langkah tuk raih asa yg berharap bukti 
Sampe waktu menjawab dengan caranya yang menguliti 

Tentang kisah dua sejoli memadu rindu di atas janji , 
Tentang rakus  makan dan lengah di atas kursi,
Tentang cara menikmati kopi bersama saudara yang mungkin berrasa basi 
Tentang asmara yang termakan indah palsu pelangi,
Tentang kelam pancaroba di antara diri dengan wajah_wajah sukma 
Yang menghijab hati 

Sungguh !
Nestapa melengkapi jiwa memasung raga,terlepas dari atma yang sejati

Wahai diri ,
Yang tersakiti oleh alasan cinta,
Yang tersakiti oleh hancurnya tahta,
Yang terkilir karena harta,
Yang tertipu bahasa jalang kelana, 
Adalah nyanyian pucuk-pucuk cemara
Bersama hembusan angin lalu, 
Yang sering kali hadirkan luka di luar logika 

Bukankah hidup hanyalah percikan dari cahaya yang menghidupkan 
Tapi Kenapa.. rasa hati tak ter indahkan dan mencoba tuk merajud 
Darinya lah mampukan  nafsu akan bersujud 

Sedemikian yang terabaikan akan ciptakan maut 
Bagi pemaksa semua cita yang harus terpungut

Janganlah diri rela ter mesumkan sisi dunia yang gabut 

Kelamnya langit,
Pitamnya amarah,
Beranak pinaknya kecewa,
Bahkan lusuhnya altar logika pada istana sang raja,
Adalah ketika kehidupan ter eja sebatas puisi tak bermata cinta 
Yang akan sesatkan  fatwa sang kalam

Hemmm,tersadari ...
Dari cinta kita terlahir 
Kepada cinta semua akan berakhir 
Bukan pada sebatas indah sajak bersyair, yang mengalir ke hilir kepada para penyair

*AK. Gurat Jagad Jiwa*
Kudus, 26 agustus 2020

Tidak ada komentar:

RAMADHAN TANPA IBU

Aku memendamnya hingga hari-hari penuh berkah datang Semesta seakan berbisik agar hati menjadi lebih lapang Mencium aroma kurma yang menggod...