**
ia mengalir dari hulu imaji
Tanpa indahkan hati
Lahirkan berragam diksi tanpa kaki
Hingga samarkan langkah tuk raih asa yg berharap bukti
Sampe waktu menjawab dengan caranya yang menguliti
Tentang kisah dua sejoli memadu rindu di atas janji ,
Tentang rakus makan dan lengah di atas kursi,
Tentang cara menikmati kopi bersama saudara yang mungkin berrasa basi
Tentang asmara yang termakan indah palsu pelangi,
Tentang kelam pancaroba di antara diri dengan wajah_wajah sukma
Yang menghijab hati
Sungguh !
Nestapa melengkapi jiwa memasung raga,terlepas dari atma yang sejati
Wahai diri ,
Yang tersakiti oleh alasan cinta,
Yang tersakiti oleh hancurnya tahta,
Yang terkilir karena harta,
Yang tertipu bahasa jalang kelana,
Adalah nyanyian pucuk-pucuk cemara
Bersama hembusan angin lalu,
Yang sering kali hadirkan luka di luar logika
Bukankah hidup hanyalah percikan dari cahaya yang menghidupkan
Tapi Kenapa.. rasa hati tak ter indahkan dan mencoba tuk merajud
Darinya lah mampukan nafsu akan bersujud
Sedemikian yang terabaikan akan ciptakan maut
Bagi pemaksa semua cita yang harus terpungut
Janganlah diri rela ter mesumkan sisi dunia yang gabut
Kelamnya langit,
Pitamnya amarah,
Beranak pinaknya kecewa,
Bahkan lusuhnya altar logika pada istana sang raja,
Adalah ketika kehidupan ter eja sebatas puisi tak bermata cinta
Yang akan sesatkan fatwa sang kalam
Hemmm,tersadari ...
Dari cinta kita terlahir
Kepada cinta semua akan berakhir
Bukan pada sebatas indah sajak bersyair, yang mengalir ke hilir kepada para penyair
*AK. Gurat Jagad Jiwa*
Kudus, 26 agustus 2020
Tidak ada komentar:
Posting Komentar