Kediri Jum'at 19 Juni 2020 / 20:59 WIB
Karya: Mata Langit
Tangan ini, gemetar menghiba pada pena..
Mengemis kata-kata pada Tuhan, bersilah menunjuk di sudut kosong
Memohon rangkuman sejatinya hidup dalam cawan pengartian..
Sendirian di sini,
Dengan sayap yang berkepak lemah terbang, melihat insan yang sudah tak mengenal insan.
Dengan melodi hidup dan cinta yang nyaris mati, mendengar lagu putus asa kesetiaan kepada si pendendam.
Dengan inspirasi yang gelap penuh rabaan, menelusuri jejak cita-cita moral yang pincang.
Dengan saut-sautan gerimis yang sungguh indah dilagu, kurekam tangisan si miskin dan si lemah hati dari gerbang pintu para tuan.
Dengan iring-iringan rindu yang tak bergembala, mengikuti pawai yang bertabuh dusta.
Dan dengan, oh dengan kekuatan ruh yang hampir tak tersekat, ditampar iman yang sekarat.
Biar tulisan saja puisi ini, puisi rindu hidup penuh hidup..
puisi nyanyian jiwa penuh kebesaran jiwa, puisi religi dalam segenap sesaji.
Biar kesebar berserak kata-kata ini di atas segala kertas,
Sajak-sajak mantra manuggaling kawulo gusti yang tak lagi tersembunyi,
lampiran uluk salam untuk pengkotbah dan untuk para pendosa,
pendengar nina bobo' yang lampau tak lagi di dengar,
dengarlah kawan ! percikkan cahaya suci dari qolbu pewahyuan sang rosul......
bertambatkan doa-doa temurun dari sang nabi yang tanpa terpungkiri dari ijabah..
Dan kini tak lagi sendiri dengan puisi.
Tapi dengan puing-puing senyum dan tangis yang tersisa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar