Kamis, 04 Februari 2021

SUARA KEMATIAN PEMBALASAN





Kediri Minggu 14 Juni 2020 / 14:35 WIB

Oleh: Mata Langit



Namaku telah kau sanjung manja
Dengan rayuan rupa-rupa tanpa ragu
Lewat layar kaca yang terus diisi berganti
Membuat nafsu itu muncul kembali
Oh... (haa... haa.. haa..)
Begitu mudah semua terjangkau
Biar bahasa dipoles jadi gombalan
Biar kata-kata digunakan hanya merayu
Maka...
Rayulah aku sampai kau puas
Saat posisi dudukku setengah terbuka
Menunggu datangmu untuk bercerita
Iya...
Kau bercerita tentang kisah romantisme
Kau berbahasa membuat sengsara
Membuat dirimu lupa pada jati dirimu sendiri
Oh... (haa.. haa..haa..)
Bukankah kita hidup dalam dunia nyata?
Kenapa kau terus merayuku dengan nafsu?
Apakah aku barang mainan belaka?
Semoga saja tidak bagimu atau mereka
Karena duniaku bukan pembayaran nafsu
Karena ajaranku bukan cara membodohi
Sampai kau tancapkan aku dengan senjata tajammu
(aaaaagggghhhhrrrr.....aaarrrrggggghhh.....)
Kata-kata kutukan akan bergentayangan mengisi tidur dan hembusan nafasmu.
Karena kata-kata yang keluar adalah pelampiasan untuk menagih hak-hak yang pernah kau janjikan.
Apalagi, janjimu semakin buram saat transisi sedang melanda gonjang-ganjing kebencian dengan tebaran-tebaran hoax.
Kata akan tersusun dengan rapi dan tetap berderet menemui emperan rumah kuasamu.
Hingga, dentuman suara akan mengahangatkan telingamu yang sering tuli mendengar sengsara.
Dan, suara tetap menggelaggar sampai bola mata terus memancar memandangmu dalam waktu lama.
Kata dan suara akan terus melayang mencari tuan-tuan yang sudah lalali dan nyaman tertidur dalam perjudian.
Barisan amunisi makna akan membanjiri telapak tamparan segala tuntutan.
Dan, tak akan henti-hentinya suara dan kata-kata terus beranak-pinak.
Bukan diksi pemanis ucapan. Bukan ambiguitas membingungkan dalam kaca mata filsafat.
Tapi, kata adalah senjata terampuh. Dan, suara adalah bidikan yang siap mengenai sasaran.
Seribu kali kau bunuh yang bernyawa.
Seratus kali kau mengancam yang berkoar lantang.
Dan, miliaran kali kau utus anggota untuk penangkapan.
Tapi, keberanian tak akan surut dan mundur selangkah pun. Karena pendirian dan barisan kami terisolasi oleh kebenaran. Hingga mata-mata air mata akan terus memberi cahaya.

Tidak ada komentar:

RAMADHAN TANPA IBU

Aku memendamnya hingga hari-hari penuh berkah datang Semesta seakan berbisik agar hati menjadi lebih lapang Mencium aroma kurma yang menggod...