Oleh: Mata Langit
/1/
Bersama langit
Yang menemani purnama
Tutur batin
Merancu dalam
Bunyi debar intuisi
Kedip bintang angkasa
Pun mulai jenuh
Mendengar keluh
Dari bibir
Yang tak punya keberanian
Merapal kejujuran
Ya
Detik malam yang berbunyi
Masih sama
Merajut butir frasa
Dengan gejolak
Mencintai tanpa kata
/2/
Mungkin ini semua salahku
Yang tak mampu
Menahan rasa
Lebih dari terpukau
Kala
Pertama jumpa
Di saat senja
Menyelinap masuk
Ke etalase bumi
Ya
Melihatmu
Kali pertama
Adalah sesuatu
Yang membuatku
Terus memuji
Baiknya Tuhan menciptakanmu
Di atas cakrawala fana ini
Perihal
Saat itu
Kau satu-satunya orang
Yang tulus mengulurkan
Salam kenal
Pada ku
Yang dipandang hina
Oleh derap lalu-lalang manusia
Ya
Sejak itu
Entah gerangan apa yang merasuki
Kau selalu terbawa
Dalam pikiran ku
Tanpa mengenal siang dan malam
Sampai akhirnya
Muncul rasa
Yang kini memancung ku
Perlahan
Yaitu
Aku sangat mencintaimu
Serta ingin memiliki mu
Bukan hanya di dunia
Tapi juga sampai akhirat
/3/
Tak terasa
Waktu terus bergulir
Menggantikan malam demi malam
Dan tak sengaja
Hati ini kembali
Menengok pada sebuah masa
Di mana aku sempat berniat
Mengungkapkan nurani
Yang bertumpang-tindih
Pada mu
Ya
Waktu itu
Ada sebuah kenekatan
Memberitahukan mu
Tentang segala
Yang membebani raga
Namun
Semuanya sirna
Di saat ku tahu
Kau telah ada yang punya
Ha
Jujur
Ingin rasanya
Aku mati
Menerima kenyataan
Yang sungguh terasa getir
Ingin ku
Meminta pada Tuhan
Melenyapkan orang
Yang sekarang kau panggil sayang
Tapi
Sekali lagi ku tahu
Itu adalah perbuatan yang bodoh
Jadi
Ku mohon
Lewat jemari yang mewarnai tinta
Janganlah terlalu baik padaku
Agar ku mudah menghilangkan rasa ini
Sampai menyentuh titik habis
Dan semoga kau mengerti
Akan kata hati ini
Bukan karena aku
Tak menghargai simpati darimu
Tapi sungguh
Aku sudah tak ingin lagi
Mendekam pada rasa
Sebatas teman
Kediri, 2 Februari 2021
Tidak ada komentar:
Posting Komentar