Senin, 06 Desember 2021

OPERA JENAKA COVIDIOT

Oleh: Mata Langit

/1/

Heran bersanding ambiguitas
Menjalar telak
Di pelupuk Selubung

Opera jenaka COVIDIOT
Kian menetaskan
Perihnya air mata
Yang tersungkur memar
Pada sistem 
Bongkar pasang konspirasi

Oknum-oknum abu nabas
Pun semakin rakus
Menancap tipu daya
Dalam rahim Pertiwi
Demi hajat nafsu durjana

/2/

Pancasila
Yang semulanya
Permai depan muka sanubari

Kini
Cacat merangkak
Mengayomi serambi
Hak anak bangsa

Tatkala
Seleksi paskibraka
Yang menenun lolos
Dikoyak rasa kecewa
Oleh drama COVIDIOT
Terbitan diskriminasi

/3/

Pada bumi Pertiwi
Yang tersayang

Inilah aku si (gadis atau jejaka) belia
Yang bersungut-sungut
Hebat kepadamu

Begitu sukar kah
Merasakan dekap hangatmu
Dalam realita

Sehingga
Aku yang masih berumur dini
Menapaki pubertas
Harus menenggak cawan pahit
Ramuan sandiwara
Figur-figur dinasti rupiah

Bunda Pertiwi

Apa yang terlihat
Silap dari ku

Aku hanya ingin
Mengibarkan merah putih
Tujuh belas Agustus
Depan istana

Tapi mengapa
Aku harus tersingkir
Oleh COVIDIOT
Yang disengaja
Memenggal
Langkahku menuju istana Jakarta

Apakah mungkin
Karena miskinku
Dari keluarga petani desa
Yang belum merasakan
Terangnya listrik

Sehingga
Aku tak diperbolehkan
Mengibarkan merah putih
Atas nama negara

/4/

Oh Pertiwi

Apalah dayaku

Senyum ku
Yang dulu sumringah
Kini telah pudar

Asa demi
Harumkan tanah ketuban
Bersama nama orang tua
Telah tiada lagi
Di atas kertas centang positif

Oh Pertiwi

Apakah
Begitu pentingnya derajat
Di matamu

Hingga
Aku si (gadis atau jejaka) belia
Yang berstatus tak punya
Disuruh
Membawakan baki
Sebagai pengganti 
Gagalnya aku
Mengibarkan merah putih

Oh Pertiwi

Apakah keadilan hanya milik
Mereka yang berkuasa

Sampai tuntutan dari aku
Diterima dengan gebrakan meja
Yang tak menggubris
Ketimpangan yang ku terima

Oh Pertiwi

Inilah aku
Si (gadis atau jejaka) belia

Yang sudah tak lagi 
Bisa merapal indahnya pelangi

Lantaran
Yang ada dalam degup jantung ini
Hanyalah depresi yang terlampau
Dini kuterima

Kediri, 13 Juli 2021

Tidak ada komentar:

RAMADHAN TANPA IBU

Aku memendamnya hingga hari-hari penuh berkah datang Semesta seakan berbisik agar hati menjadi lebih lapang Mencium aroma kurma yang menggod...