Jumat, 18 Oktober 2024

Sejak Jejak Berjarak



Dari balik telapak kaki

pernah ku jejali jejak yang pilu,

membekas yang terus menerus mengikutiku

telah ku tinggal namun selalu ada yg menghampiri. 

jejak jejak usang yang kotor entah ke arah mana ia menghadap

kau yang memberi bekas itu bertelanjang tak berpenghalang. 

Saat dekat tak Terasa hangat bahkan dingin didapat.

telah mati kah

telah mati kah

atau sedang terbujur kaku sekarat yang menanti nya. 

tidak sedikit dan tidak banyak telah ku injak injak egoku hanya untuk seutas kebahagian kecilmu. 

Ternyata titian pijakanku berada 1 inchi diatas segala perhatian sekitar ku

ku telah buta, sudah tuli

Hanya menuruti hasrat kata hati 

Tanpa pernah perduli perkataan logika

Sering kali kini langkahku berpijak mengarah ke beranda rumahmu, 

menelusuri bekas jejak kotor yang kelam. 

Luka sayatan batu kerikil ini terbuka menganga, kau datang seakan ingin mengobati, tapi naas, kau taburkan garam, membuatku menjerit kesakitan kau beri rasa perih teramat pedih. 

Setelah itu, kau menjauhiku tanpa menoleh sekalipun kearah ku. 

Apa yang kau perbuat? 

Apa yang telah terjadi? 

Sekali lagi kau membuat luka dalam lukaku tanpa berkesudahan. 

Membuat setiap langkah majuku semakin dekat, lebih sakit,menderita, lebih lebih dari sebelumnya.

Tak ingin lagi kukuliti telapak kaki ku dengan sayatan batu kerikil yang sengaja kau taburkan di setiap sela jejak usangku, tak pernah memudar, menghilang bahkan tertutup oleh bayang bayang yang kau harap menjadi masa depan mu. 

Walau kini banyak yang menitah meniti langkah ku, tetap saja aku masih tertatih tatih. Sejak jejak langkah berharap kian meberi jarak, pandangan yang mengharap harap kini kabur tak berarak

Jauh

Jauhh

Menjauhhh

Kian menjauhhh..



Ocong uning

Jakarta, 16 juni 2022

Tidak ada komentar:

RAMADHAN TANPA IBU

Aku memendamnya hingga hari-hari penuh berkah datang Semesta seakan berbisik agar hati menjadi lebih lapang Mencium aroma kurma yang menggod...