Dari balik telapak kaki
pernah ku jejali jejak yang pilu,
membekas yang terus menerus mengikutiku
telah ku tinggal namun selalu ada yg menghampiri.
jejak jejak usang yang kotor entah ke arah mana ia menghadap
kau yang memberi bekas itu bertelanjang tak berpenghalang.
Saat dekat tak Terasa hangat bahkan dingin didapat.
telah mati kah
telah mati kah
atau sedang terbujur kaku sekarat yang menanti nya.
tidak sedikit dan tidak banyak telah ku injak injak egoku hanya untuk seutas kebahagian kecilmu.
Ternyata titian pijakanku berada 1 inchi diatas segala perhatian sekitar ku
ku telah buta, sudah tuli
Hanya menuruti hasrat kata hati
Tanpa pernah perduli perkataan logika
Sering kali kini langkahku berpijak mengarah ke beranda rumahmu,
menelusuri bekas jejak kotor yang kelam.
Luka sayatan batu kerikil ini terbuka menganga, kau datang seakan ingin mengobati, tapi naas, kau taburkan garam, membuatku menjerit kesakitan kau beri rasa perih teramat pedih.
Setelah itu, kau menjauhiku tanpa menoleh sekalipun kearah ku.
Apa yang kau perbuat?
Apa yang telah terjadi?
Sekali lagi kau membuat luka dalam lukaku tanpa berkesudahan.
Membuat setiap langkah majuku semakin dekat, lebih sakit,menderita, lebih lebih dari sebelumnya.
Tak ingin lagi kukuliti telapak kaki ku dengan sayatan batu kerikil yang sengaja kau taburkan di setiap sela jejak usangku, tak pernah memudar, menghilang bahkan tertutup oleh bayang bayang yang kau harap menjadi masa depan mu.
Walau kini banyak yang menitah meniti langkah ku, tetap saja aku masih tertatih tatih. Sejak jejak langkah berharap kian meberi jarak, pandangan yang mengharap harap kini kabur tak berarak
Jauh
Jauhh
Menjauhhh
Kian menjauhhh..
Ocong uning
Jakarta, 16 juni 2022
Tidak ada komentar:
Posting Komentar