Rabu, 27 Agustus 2025

KEYAKINAN YANG TERKUBUR DALAM RESITAL SUNYI

 

Oleh : Mata Langit


Aku datang padamu, seperti ziarah seorang musafir ke mata air, haus, rapuh, percaya beningmu menyalakan hidup yang nyaris padam.

Kau kusebut sahabat, kusebut kebenaran, cahaya di tepi malam berkabut.

Hatiku kutaruh di altar kata, seperti dupa pada dewa, yakin takkan dipatahkan.


Namun ternyata tanganku yang terulur hanya menyentuh udara.

Suaramu menjelma tembok yang memantulkan sunyi.

Kepercayaan itu retak bagai kaca jatuh dari menara:

pecah, hancur, mengiris jiwa yang semula percaya.


Apakah salah hatiku yang memilih percaya bisikan lembutmu?

Apakah salah cintaku, lahir dari dada yang sama?

Meski terbungkus tubuh sesama yang kau pandang ragu,

kau bungkam dengan dingin, seakan tak berdaya.


Ironi menari di sekelilingku, aku percaya pada pelita,

tapi kau menjadi malam yang memadamkan cahaya.

Aku percaya pada pelukan, tapi kau menjelma dinding beku.

Aku percaya pada kebenaran, tapi kau keraguan yang menyamar jadi baik.


Kau diam dan diam itu lebih bising daripada petir.

Kau menghindar dan tusukannya melebihi seribu pisau.

Kau meragukan dan keraguanmu menindih dada,

lebih berat dari gunung batu yang tak mampu kupikul.


Ah, kepercayaan… bagai kaca patri di katedral jiwa:

indah, berwarna, suci, menyalakan cahaya dari dalam.

Namun sekali retak, serpihannya jadi luka yang dalam;

bahkan sinar pun enggan menyentuhnya kembali.


Malam-malam panjang jadi saksi pengasinganku.

Aku berbicara dengan sunyi yang menolak diam.

Aku menyalakan lilin di ruang doa yang runtuh,

namun angin ragumu terus memadamkannya.


Kau sebut aku cinta, tapi kau sembunyikan aku,

seperti dosa yang tak layak berdiri di terang.

Kau jadikan aku rahasia yang kau sembah diam-diam,

namun kau buang aku di mazbah omongan manusia.


Tidakkah kau tahu, tubuh ini bukan cela?

Cintaku padamu bukan noda yang harus dibersihkan.

Namun kau jadikan aku luka yang disangkal,

dan darahku menetes di setiap penyangkalanmu.


Aku menunggu jawaban yang tak pernah tiba.

Setiap detik berubah jadi batu di dadaku.

Kau merantai bisikan yang mestinya lantang,

namun waktu pun lelah menunggumu setia.


Kini aku hanyalah bayangan yang kau tolak.

Jejakku terhapus oleh hujan yang kau undang.

Aku hanyalah nama yang kau kubur hidup-hidup

dalam tanah ketidakpastian yang tak berbunga.


Ratapan menjelma nisan, doa menjelma racun.

Kenangan jadi labirin panjang yang menyesakkan.

Aku pernah percaya, seperti laut percaya pada pantai,

seperti bulan percaya pada langit malam.


Tapi ternyata kau adalah karang yang melukai ombak.

Kau adalah awan yang menutup bulan sendu.

Maka biarlah aku menutup puisi ini—

dibunuh oleh tangan yang seharusnya menguatkan jiwa.


Dan di atas pusaranya biarlah ia berdiam.

Agar suatu hari kau membacanya lalu mengerti,

bahwa aku pernah percaya sepenuhnya,

namun percaya itu mati oleh sikap tak pernah menjawab.


Dan bila suatu hari kembali mencari,

jangan harap kau temui dengan pelukan yang sama.

Sebab aku telah jadi elegi yang selesai ditulis,

nyanyian duka yang tak lagi butuh pendengar.


Kediri, 22 Agustus 2025

Tidak ada komentar:

RAMADHAN TANPA IBU

Aku memendamnya hingga hari-hari penuh berkah datang Semesta seakan berbisik agar hati menjadi lebih lapang Mencium aroma kurma yang menggod...