Oleh: Mata Langit
Di panggung republik berdebu,
tirai janji digantung pada paku berkarat.
Aktor-aktor berwajah seribu topeng
menyulam dusta dengan benang emas retorika.
Kami dipaksa minum obat tanpa resep,
dalam botol kaca berlabel “sejahtera”,
padahal isinya racun hutang mendidih,
dituang perlahan ke lambung rakyat yang pasrah.
Hukum menjelma ular berkepala dua:
satu menggigit tulang nelayan lapar,
satu lagi menjilati tangan penguasa
yang basah oleh madu korupsi.
Gedung-gedung tinggi menjulang,
bagai nisan raksasa di atas sawah yang punah,
sementara anak-anak mengeja abjad
di kelas bocor sebesar doa mereka.
Media menjadi cermin retak,
memantulkan wajah kuasa dengan cahaya palsu.
Berita disulam jadi kidung kemenangan,
padahal aromanya menyesaki paru-paru bangsa.
Kami dipaksa sehat di tubuh bernanah,
dandanan harum, isi dalamnya barah.
Negara menari di pesta sorot lampu,
sementara rakyat terperangkap gelap panjang.
Banjir turun seperti kutukan purba,
namun disebut berkah dalam mulut pejabat.
Gunung dikerat, sungai dibelenggu,
alam menuliskan sumpah di balik kabut.
Di kursi dewan, kata-kata diperdagangkan,
suara rakyat jadi mata uang palsu.
Tepuk tangan hanyalah gema kosong
dari mulut yang kehilangan hati.
Pendidikan menjelma etalase rapuh,
ijazah diperdagangkan di bawah meja.
Guru terhimpit gaji yang terengah,
anak didik terjerat ilusi angka.
Rumah sakit berdiri setinggi doa,
namun ranjangnya penuh jerit tak terbeli.
Perawat menyulam sabar dari luka,
bangsa terbaring dalam pasrah paksa.
Jalan-jalan dibangun secepat pidato,
namun lubangnya menelan langkah jelata.
Pita merah dipotong di altar kamera,
janji tetap tergantung pada tali putus.
Agama dijadikan panggung kedua,
mimbar menjelma pasar janji surgawi.
Tangan menengadah di sajadah emas,
sementara kaki menginjak tanah yatim.
Pasar rakyat menjadi altar kesedihan,
harga-harga naik bagai doa tak terkabul.
Ibu-ibu menakar lapar dengan air rebusan,
anak-anak tidur di pelukan kosong.
Kota menjelma karnaval neon,
iklan berteriak tentang kemakmuran.
Sementara pengemis berbaris panjang
menulis puisi lapar di trotoar sunyi.
Politik menjelma pesta topeng,
janji-janji ditukar bagai kartu murahan.
Suara rakyat hanyalah gema kosong
yang terkubur di bawah kursi kekuasaan.
Negeri ini menulis dirinya dengan tinta abu,
naskahnya panjang, babaknya tak berujung.
Aktor silih berganti dari balik tirai,
lakon tetap: sandiwara luka yang abadi.
Kediri, 14 Agustus 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar